Berita

Menyiasati Budaya Popular

 
“Saya pernah mendapat informasi bahwa
ada anak yang sedang mesum di warnet,”
Ujar Ikhwan Setiawan.
 
Rabu (14/12) Ormawa (Organisasi Mahasiswa)  Fakultas Sastra Universitas Jember(FS-UJ) mengadakan seminar budaya. Kegiatan yang bertempat di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) tersebut bertema, ‘Indonesia Dalam Kepungan Budaya Populer’. Pembicara dalam seminar, Tiga dosen FS-UJ, Prof. Ayu Sutarto. M.A, Drs. Moch. Ilham. M.Si, dan Ikhwan Setiawan. S.S.M.A.
 

Kegiatan ini berawal dari munculnya dana hibah dari rektorat sebesar lima juta rupiah, untuk kegiatan organisasi Mahasiswa Fakultas Sastra, dalam bentuk apapun. Kemudian Ormawa FS-UJ berembug bersama guna menginisiasi seminar budaya.

Semua perwakilan dari Ormawa juga turut berpartisipasi menyumbangkan kreatifitas mereka. Ada pertunjukan tari dari Dewan Kesenian Kampus (DKK), sebelum seminar dimulai. Selain itu  terdapat ‘pembawa acara’ yang dibentuk  dalam dua bahasa (Inggris- Indonesia), diperankan oleh delegasi Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (Imasind) dan English Department Students Association (EDSA). Kemudian untuk doa dibawakan oleh delegasi dari Lembaga Kerohanian Fakultas Sastra (Lekfas). Sedangkan sesi diskusi diserahkan kepada delegasi Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS).

Tema dalam seminar sangat menarik, Berkaitan langsung dengan realitas anak muda yang kental dengan budaya Pop. Tidak heran jika peserta yang hadir dalam seminar melebihi kuota perkiraan panitia, ‘dua ratus’. Akhirnya beberapa peserta ada yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.

Seulas pembahasan dalam seminar

Bukan hal yang asing lagi jika kita melihat anak usia dini sudah memegang telepon genggam. Barangkali sudah zamannya. Namun yang mejadi permasalahan ketika ‘produk’ itu hanya digunakan sebagai pemuas kebutuhan pada gaya hiup. Jika ditarik akar permasalahan yang mempengaruhi, tidak terlepas dari peranan pengaruh media, lingkungan mereka tinggal dan industri yang menyediakan itu semua. Ini di luar perhatian orang tua untuk selalu mengawasi. Karena mau tidak mau mereka harus mengalami proses transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa di dunia luar.

Tidak menutup kemungkinan kita juga mengalami hal yang demikian. Ketika kita lebih nyaman melihat sinetron, gossip atau boy band di banding menonton acara yang mengandung unsur pendidikan. Hingga terjebak pada budaya imitasi. Pelarian untuk memenuhi keinginan, pola hidup ‘tren’ tersebut, telah disediakan oleh pasar. Menjadi sebuah ironi jika generasi bangsa lebih bersifat konsumtif.

Menurut Drs. Moch. Ilham, kita tidak perlu takut menghadapi budaya Pop, apalagi mahasiswa sebagai ras intelektual layaknya menjadi contoh. Selain itu, permasalahan tersebut juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena kita juga mengikuti perkembangan zaman. Ia mengutip teori dari Adorno, bahwa dalam memandang budaya ‘Pop’ ada nilai guna primer dan nilai guna skunder. Misalnya, jika membeli telepon genggam yang digunakan sebagai kebutuhan komunikasi, Itu masuk dalam kebutuhan primer, Kemudian  yang hanya digunakan sebagai kebutuhan  tren (Skunder).

Suasana dalam Forum semakin hening, terlihat beberapa dari peserta seperti sedang merefleksi diri. Namun tidak lama kemudian berubah santai.  ”Saya tidak bisa bersaing dengan Pak Hadiri (Pembantu Dekan III FS-UJ), yang setiap bulan Handphone-nya ganti hahaha,” Ujar pak ilham dengan penuh gurau untuk mencairkan suasana.

Terdapat dua kategori kebudayaan yang merupakan warisan nenek moyang maupun perubahan kekinian. Yang pertama merupakan budaya High Culture (budaya Adiluhung) yang memiliki makna berarti bagi masyarakat dan sungguh indah. Kemudian Low Culture yang merupakan budaya POP sendiri. menurut Ikhwan Setiawan. S.S.M.A, Budaya Pop lebih menjamin kebebasan serta lebih ke hal yang senang-senang. “Saya pernah mendapat informasi bahwa ada anak yang sedang mesum di warnet.” Ujarnya.

Di era modern yang serba instan, sebaiknya  biasa memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai media pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Ikhwan Setiawan. S.S.M.A, “Pemanfaatan budaya Pop sebagai media transformasi ke generasi untuk melestarikan budaya lokal adiluhung, misalnya Pelestarian lagu-lagu daerah Banyuwangi yang sudah bisa memanfaatkan teknologi,” Imbuhnya.

Banyak faktor yang akhrinya menggerus ingatan kolektif, tentang budaya warisan adiluhung yang indah itu. Ketika generasi muda tidak menerima transformasi kebudayaan untuk tetap melestarikan. Malah asik dengan budaya Pop kekinian. Ketika internet sudah menyediakan banyak hal tentang pengetahuan tanpa harus bersusah payah untuk mencari informasi. Namun juga semakin mudahnya dimanfaatkan sebagai sarana kebutuhan biologis untuk mengakses film ‘Porno’ misalnya.”Terhitung ribuan rakyat Indonesia mengakses film porno” ungkap Prof. Ayu Sutarto. M.A. []

Komentari
To Top