Berita

Persma Tempo Dulu dan Sekarang

Sebuah pencarian identitas persma kekinian.
Perbandingannya dengan pers mahasiswa tempo dulu.
 

Terlihat rona wajah asing, beberapa juga baru saling kenal. Mereka berkumpul dalam satu ruangan yang sedikit mewah dari sebelumnya, rumah baca atau yang lebih akrab disebut Tikungan. Di tempat itulah, jum’at (10/12), diadakan diskusi bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Jember. Topik Pembicaran dalam diskusi tersebut seputar, ‘seperti apa media Pers Mahasiswa (Persma) sekarang’.

 Setelah Term Of Refrence (TOR) diskusi dibagikan, suasana diruang yang terbilang cukup lebar tersebut mendadak hening, terlihat mulai membaca pengantar diskusi. Tidak lama kemudian, diskusi dibuka  oleh Sekertaris jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) kota jember, Riski Akbari S. “PPMI merupakan tempat berkumpulnya wajah-wajah LPM sejember, dan nama ketuanya Sekjend,” Ujar Riski.

 Dalam diskusi, hadir dua Teman bicara untuk berbagi pengalaman. Pertama dari Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi (LPME) Ecpose, Nody Arizona. Ia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) selama dua periode. Selanjutnya dari UKPKM Tegal Boto (TB), Didik Saputra, Sekarang menjabat sebagai pemimpin umum (PU).

Persma Tempo dulu

Persma terbentuk sebagai media alternatif ketika rezim orde baru berkuasa. Ini terjadi saat Soeharto membungkam dan membekukan media umum yang terbilang kritis terhadap pemerintah.  Mahasiswa yang merupakan ras intelektual, menuntut hati nurani mereka untuk bergerak ‘bersama’ dari beragam latar belakang organisasi ekstra maupun intra kampus.

Suara mereka satu, walaupun latar belakang ideologi mereka berbeda. Dengan demikian, Persma saat itu terbentuk dalam ideologi satu untuk musuh bersama. Terbukti dengan banyaknya media yang dibredel kala itu, salah satunya seperti pernah terjadi dengan SAS yang merupakan lembaga Persma dari sastra dan akhirnya berubah nama menjadi IDEAS.

Semangat mereka jelas sangat terasa, sampai puncaknya tahun 1998. Mahasiswa menjadi motor penggerak reformasi dengan runtuhnya rezim Soeharto. Akhirnya  media umum ‘meluap’ setelah  mendapat kebebasan untuk berbicara kritis diranah politik. Namun, bagaimana dengan perr mahasiswa kekinian?, Dengan segenap ketegasannya, Riski  memulai pembicaraan dengan menjelaskan  segurat  sejarah persma tersebut.

Kemudian Riski mencoba memancing pendengar diskusi yang dihadiri oleh beberapa LPM se-jember tersebut. Ia membandingkan persma tempo dulu dengan sekarang , “apakah persma lupa dengan sejarahnya? Kok terbitnya satu tahun sekali,” ujarnya lalu disambut dengan suasana  penuh keheningan.

Sejarah singkat beberapa LPM dengan era kekinian

Setelah dirasa usai menjelaskan segurat sejarah persma, Riski memberi kesempatan kepada nody untuk menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana perkembangan media persma. Pemred berambut ikal  tersebut mencoba menceritakan tantang media yang selama ini lebih dekat dengannya yaitu produk Ecpose sendiri.

Persma memang selalu bergerak melawan, melindungi dan lebih memihak kebenaran. Dan semua LPM memiliki sejarah tersendiri. Kalaupun semangat mereka sudah luntur, apakah karena sudah lupa dengan sejarah tempo dulu?  Zamannya memang sudah berbeda. Lantas  seperti apa sejatinya media Persma sekarang? Menjadi media alternatif atau hanya media kampus sebagai ruang pembelajaran?, ” tegas Nody. Setelah beberapa saat, terlihat mimik muka teman-teman LPM tampak bisu.

Akhinya di Ecpose sendiri menciptakan produk semi jurnal ‘buldock’ untuk bisa menampung isu kekinian dan penggarapannya lebih mudah. ”Karena tidak memungkin kita terlalu lama menggodok isu dalam skala kecil terlalu lama,” Imbuh nody sambil menutup perbincangannya.

Dialog dalam bentuk Tanya jawab belum dibuka. Selanjutnya pemaparan dari PU Tegal  Boto (TB), Didik. Dengan terperinci ia menjelaskan sejarah  singkat TB yang merupakan LPM dalam skala Universitas Jember (UJ). Tahun 1993, TB lahir dari rahim temen-temen LPM diseti`p fakultas UJ. antara lain dari IDEAS, Ecpose dan masih banyak yang lain. Dalam tubuh TB, terdapat dualisme latar belakang organisasi yang berbeda. Antara delegasi pengurus dari organisasi intra (LPM red.) dan organisasi Ekstra kampus. Medianya pun berbeda “Untuk ekstra nama medianya Tawang Alun dan TB tetap Tegal Boto.”  Ujar Didik.

Pengurus TB diambil  dari delegasi setiap LPM, sehingga sudah membekali ilmu kejurnalistikan. Dari majalahnya tahun 1997, tag line media TB di wilayah politis yaitu ‘Amanat nurani mahasiswa’ saat punya musuh bersama yaitu Suharto.  Kemudian Tahun 1998 setalah rezim runtuh dan tidak memiliki musuh bersama tag linenya berubah  ‘Menuju tradisi kerakyatan’.

Banyak terjadi konflik idiologis setelah  berbagai Organisasi mahasiswa tidak memiliki musuh bersama dengan runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998.  Akhirnya pada tahun 1999 ketika rezim Orba runtuh, banyak masalah yang dialami TB. Muncul persaingan untuk saling menjatuhkan yang walaupun berada dalam satu tubuh antara golongan ekstra dan intra. “kadang waktu temen-temen dari intra nulis, diam-diam mereka hapus. Begitu juga sebaliknya,” Ujar didik dengan sedikit mengenang masa itu. Namun  akhirnya disepakati untuk menghapus organ ekstra di TB Pada kongres tahun 2000.

Tahun 2001 kembali berubah ‘Menuju pencerahan masyarakat’ dengan menyesuaikan pada jiwa zaman. Menggunakan pisau analisis filsafat dengan menghilangkan metode penulisan jurnalisme, seperti reportase. “Namun kita juga membuat produk untuk ke hal reportase, ada TB Post yang Isinya berita,” Imbuhnya .

Pembicaraan berlanjut dengan saling tukar pendapat antar temen-temen LPM. Beberapa diantaranya juga bertanya mengenai permasalahan yang sedang dialami lembaga. Mulai dari permasalahan paling rumit hingga yang paling mendasar. Seperti yang dialami Explant, LPM dari Politeknik Negri Jember (Poltek). “Kita pernah dipanggil Dekanat waktu mengangkat isu yang terbilang sensitif.” Ujar salah satu awak Explant.[]

Komentari
To Top