Etalase

Jalan Terjal Pers Mahasiswa

PPMI sampul

Judul: Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia
Penulis: Moh. Fathoni, Dkk.
Penerbit: Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia dengan Penerbit PT. Komodo Books
Cetakan: Pertama, April 2012
Tebal Buku: xiv+194 hlm
ISBN: 978-602-9137-09-5
Peresensi: Sadam Husaen Mohammad


Membaca buku Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia ini seperti menyelami sebuah danau sejarah yang sangat dalam.  Pers mahasiswa ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan perjalanan yang tidak mulus di jelaskan dalam buku ini. Buku yang di susun untuk mengungkap sejarah pers mahasiswa sejak kemunculannya hingga sekarang ini dan perjalanan pers mahasiswa yang mengambil jalan perlawanan dan mungkin juga menggantikan peran pers umum pada tahun 1998.

Pemerintahan orde baru yang benar-benar otoriter dan usaha untuk membungkam fungsi pers umum dan terkesan menghalang-halangi gerakan mahasiswa juga begitu terang di jelaskan dalam buku ini. Para pegiat pers mahasiswa pada awal kemunculannya hingga sekarang dan data-data kegiatan juga pertemuan-pertemuan menjadi narasumber utama bagi buku ini.

 

Jalan Terjal

Buku yang ditulis oleh para alumni PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) ini merekam perjalanan silam organisasi pers mahasiswa sejak bernama IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia). Gabungan dari dua organisasi pers mahasiswa yang terbentuk sebelumnya dalam konferensi pers mahasiswa I di Kaliurang pada 8 Agustus 1955 yaitu, SPMI (Serikat Pers Mahasiswa Indonesia) dan IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia). IPMI sebagai organisasi pers mahasiswa nasional pada saat itu melewati perjalanan yang sulit, sehingga tidak menjalankan fungsinya dengan baik. IPMI kemudian jatuh. Tak menunjukkan eksistensinya semenjak pergantian rezim Orde lama ke rezim Orde baru.

Dituliskan dalam buku ini bahwa kepengurusan IPMI pada tahun 1980 semakin meredup, tidak ada lagi kegiatan ataupun pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan, bahkan pada saat itu beberapa media pers mahasiswa dilarang terbit. Kegelisahan para pegiat pers mahasiswa semakin menjadi karena IPMI tidak juga menunjukkan tajinya. Jalan yang terjal dilewati para pegiat pers mahasiswa, mulai dari kegiatan yang begitu dibatasi, pemberedelan media pers mahasiswa ada dimana-mana. Kemudian yang paling besar adalah dikeluarkannya kebijakan NKK/BKK, yaitu kebijakan penerapan penerbitan khusus. Dengan kata lain sebuah tindakan represif pemerintah melalui state apparatus-nya bisa jadi melemahkan dan merepotkan gerakan mahasiswa.

Semua kebijakan pemerintahan orde baru yang mengebiri kegiatan mahasiswa khususnya pers mahasiswa dituliskan dalam buku ini. Data-data yang dulu kembali dimunculkan, sebagai pengingat di mana dulu pers mahasiswa menghadapi perjuangan yang tidak gampang karena sekarang tak ada lagi peraturan yang mengebiri kebebasan pers umum maupun pers mahasiswa.

Kemunduran demi kemunduran IPMI digambarkan pada buku ini, juga kegelisahan para pegiat pers mahasiswa yang butuh wadah baru pengganti IPMI yang semakin jatuh. Kejatuhan IPMI dan kegelisahan para pegiat pers mahasiswa menjadi sejarah awal terbentuknya PPMI. Pertemuan-pertemuan giat dilakukan oleh para pegiat pers mahasiswa untuk menghasilkan wadah baru, tapi pertemuan-pertemuan itu pun diawasi oleh pemerintahan Orde baru. Para pegiat pers mahasiswa tidak gentar. Kecerdikan para pegiat pers mahasiswa dituliskan di buku ini dengan diadakannya pertemuan-pertemuan yang ditutupi dengan kegiatan pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Indonesia. Pertemuan dengan kedok pelatihan jurnalistik itu berhasil dan pada awal tahun 1990 terbentuklah organisasi dengan nama Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Indonesia yang akhirnya berubah menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia karena pertimbangan pada kerja yang dilakukan organisasi tersebut.

Tapi PPMI bukanlah anak atau turunan dari IPMI karena dalam buku ini dituliskan “Perlu dicatat pula, kelahiran PPMI bukan merupakan fase kelanjutan dari organisasi pers mahasiswa sebelumnya: Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Pun bukan berarti anti-tesa dari organisasi pendahulunya itu. PPMI lahir karena kehendak generasi zaman, di mana represifitas semakin menggila.” (Halaman 2).

Masih seperti IPMI yang melalui jalan terjal, PPMI juga harus bergelut dengan pemerintahan pada saat itu. Pertemuan demi pertemuan masih dibatasi oleh pemerintah karena PPMI bukanlah organisasi dengan legalitas. Tertulis dalam buku ini: “Kehadiran PPMI tidak dikehendaki penguasa kala itu karena terbentuknya PPMI tidak memiliki legalitas organisasi. Akhirnya, gerakan bawah tanah menjadi suatu pilihan.” (Halaman 2). PPMI sebagai wadah LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) yang berada dalam naungan kampus selalu berusaha dalam meperjuanangkan kebebasan pers mahasiswa, tapi usaha-usaha itu sangat sulit ketika berbenturan dengan pemerintahan pada waktu itu.

 

Gerakan Pers Mahasiswa

Periodisadi yang runtut menjadi salah satu kelebihan buku ini. Sejarah dituliskan sejak terbentuknya PPMI hingga usaha PPMI yang tak langsung ikut serta dalam penggulingan Soeharto pada pemerintahan Orde baru. Usaha-usaha para pegiat pers mahasiswa dalam PPMI untuk mendapatkan kebebasan mendapat dukungan dari para wartawan umum, salah satunya adalah Mochtar Lubis, ditulis dalam buku ini ketika Mochtar Lubis memberikan ceramah jurnalistik pada 2 Juli 1986 di Unas Jakarta, dia menyinggung mengenai kebebasan pers dengan berkata, “Sudah Saatnya Pemerintah Lebih Terbuka kepada Pers,” (Halaman 30).

Tapi usaha untuk mendapatkan kebebasan itu malah berbalik, karena pemberedelan kembali terjadi pada media-media pers mahasiswa saat itu dengan alasan yang begitu sepele. Tabloid SAS (Sarana Aspirasi Mahasiswa) Fakultas Sastra Universitas Jember menjadi salah satu contoh salah satu media pers mahasiswa yang dibredel dalam buku ini. Tabloid SAS dibredel hanya karena memuat wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer dan mencetak tebal kata ‘Rezim Otoriter’ pada tajuk rencananya.

Tak hanya Tabloid SAS, dalam buku ini disebutkan semua media pers mahasiswa yang diberedel pada saat itu, media umum yg diberedel pun juga disebutkan. Tapi PPMI tidak gentar menghadapi pemberedelan beberapa media itu, para mahasiswa yang ada di dalam PPMI semakin geram dan mencoba melawan.

Tragedi 1998 ketika pemerintahan Soeharto berhasil digulingkan juga dilukiskan dalam buku ini, khususnya peran pers mahasiswa pada saat tragedi 1998 itu. Pemberitaan demi pemberitaan juga pengawalan isu dilakukan oleh aktivis pers mahasiswa, walaupun mereka terus menghadapi halangan. Tak hanya pers mahasiswa saja yang menghadapi halangan dalam melakukan kegiatan, tapi semua kegiatan mahasiswa saat itu begitu dibatasi. Akhirnya para mahasiswa pun mempunyai satu musuh bersama atau common enemy yaitu pemerintahan Orde baru. Akhirnya semua aktivis mahasiswa dari segala kalangan termasuk aktivis pers mahasiswa pun bergerak dan berhasil menggulingkan pemerintahan Orde lama.

 

PPMI Masa Kini

Selain sejarah terbentuknya dan perjalanan PPMI dari awal, buku ini juga merekam berbagai kritik terhadap kinerja PPMI masa kini atau setelah terjadinya Tragedi 1998. Dalam buku ini dituliskan bahwa PPMI setelah tragedi 1998 seperti kehilangan orientasi karena tidak adalagi musuh bersama, bahkan dijelaskan pula permasalahan-permasalahn sepele yang mengguncang PPMI dari keluarnya beberapa LPM dari naungan PPMI sampai permasalahan internal yang begitu pelik dalam PPMI.

Tak hanya kritik yang ada dalam buku yang ditulis oleh Moh. Fathoni, dan kawan-kawan. Buku ini merekam semua semangat dan perubahan pada tubuh PPMI yang sampai sekarang masih bertahan sebagai organisasi yang membela kepentingan rakyat secara independen dan belum mempunyai legalitas. PPMI sebagai pers alternatif di samping banyaknya media umum karena tidak ada lagi undang-undang yang menghalangi kebebasan pers saat ini. “Pemberitaan dan isu yang diusung media persma harus mampu menyentuh persoalan-persoalan kerakyatan, bahkan lebih jauh harus mampu melakukan pembelaan.” (Halaman 172)

Buku dengan cover berwarna merah ini adalah salah satu buku yang harus dipunyai oleh para pegiat pers mahasiswa sekarang, karena dengan membaca buku ini kita akan mengetahui betapa terjal jalan sejarah yang harus dilewati oleh para pegiat pers mahasiswa dulu. Sayangnya dalam buku ini ada beberapa periodisasi tahun yang selalu diulang-ulang, sehingga mungkin membuat para pembacanya bingung dan bosan.

Tapi disamping itu buku ini sangat layak untuk dibaca karena masa depan adalah sejarah yang diulang, dan buku ini memuat sejarah panjang terbentuknya organisasi mahasiswa yang sedikitnya memberikan perubahan terhadap pemerintahan di Indonesia. Buku yang begitu bagus merekam kronik dari perjalanan terjal para mahasiswa yang mengabdikan hidupnya untuk berjuang dalam organisasi pers mahasiswa untuk melawan tirani kekuasaan yang dianggap tidak membela rakyat.[]

Komentari
To Top