Puisi

Puisi-Puisi Cak Oyong

Pudar (Ilustrasi: kholidraf)

Senja Ke-empat puluh satu

Aku selalu menanti Hujan
Menikmati setiap tetesnya
Membasahi muka
Begitulah caraku mencairkan tubuh dan hati

Ini adalah senja ke empat puluh satu
Hidup yang begitu setia
Datang bersama
Dan hilang bersama
Tak ada yang tersisa
Tak ada yang sia-sia

Semestinya kita meminta pada TUHAN
Untuk bereinkarnasi menjadi Hujan saja
Tapi kamu terlalu pengecut
Atau aku…

Hujan yang begitu setia
Di senja keempat puluh satu
Lalu
Keranda yang membawa tubuhmu
Bersama setiap tetesnya
Dan aku
Sendiri

28’10’13

 

 

Ketika Hujan

Hujan
Dan perjumpaan kita

Payung bening
Kau dan Aku bersanding

Tiba-tiba

Obrolan hangat
Dan secangkir kopi hitam pekat
Kau dan aku merapat
Erat

Begitu saja

Hujan
Dan perpisahan kita

Akhirnya
Janji terucap lamat-lamat

28’10’13

 

 

Merindukanmu

Kembali memanggilmu, Safira
Setelah satu dasa warsa
Mungkin juga lebih
Ah, entahlah…

Empat musim yang menjalani takdirnya sendiri
Berputar tak lagi stagnasi
Dan ingatan tentangmu
Yang tiba-tiba menghilang
Mengikuti rintik hujan terakhir
Yang kita nikmati bersama
Kala itu

Pakaian basah
Dan bibir yang melekat

Kita saling berpunggungan
Aku pulang
Kau menghilang

Begitu pada akhirnya

Kala rintik hujan yang pertama
Setelah sekian lama
Tiba-tiba Aku merindu
Itu saja

28’10’13

 

 

Aku Lelakimu

Aku Lelakimu
Ya, Aku Lelakimu
Sebut saja begitu
Bukankah kau mencipta
Banyak kehidupan
Dari Rahimmu yang kelam

Sebut saja mereka anak-anak kita
Yang melompat keluar
Semburat
Tak tentu arah
Ada yang telah menemukan jalannya sendiri
Ada yang mati diterjang masa koloni

Aku Lelakimu
Sungguh
Sekalipun tak pernah bersetubuh
Menikmati rintikmu adalah
Satu kuasa waktuku

Tak hanya rintik air
Dan semburat warna
Bahkan gelegar amarahmu
Pun cukup indah dinikmati

Maka jangan ceraikan aku
Darimu
Teralu lama
Mari kita merujuk saja

Aku Lelakimu
Dan Kau milikku
Sebut saja begitu

30’10’13

 

 

Aku Rindu Mati

Aku Rindu Mati
Begitu katamu
Tiba-tiba
Ketika Senja
Dan Hujan turun rintik-rintik
Ya, Aku Rindu Mati dengan suasana seperti ini
Hujan adalah sebuah wujud simbolik
Kedamaian dalam realita fisik
Lelah
Anggap saja begitu
Kefanaan yang penuh dengan kecarut-marutan
Sia-sia
Aku Rindu Mati dan bukan untuk Mati
Setidaknya Aku akan selangkah lebih dekat
Darimu yang masih bertahan disini
28’10’13

 

 

Cak Oyong a.k.a Nurul Hidayah,
Seorang Conceptor, Penikmat Senja dan Aroma Tanah Basah, Mencintai Kopi, Buku, dan Street Photography.
Komentari
To Top