Kolom

Surat Terbuka Untuk Rektor Universitas Negeri Yogyakarta

;Terkait Pembredelan Buletin EXPEDISI LPM Ekspresi

Yang kami hormati,
Bapak Rochmat Wahab,
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
di tempat

Selamat pagi Pak, semoga anda senantiasa dalam keadaan sehat secara fisik dan batin. Dalam benak anda mungkin akan bertanya-tanya ketika membaca surat ini, siapa dan apa tujuan kami melayangkan surat kepada anda. Kami akan memperkenalkan diri, dengan bercerita saja. Sebetulnya kami tak lebih dari sekadar kumpulan mahasiswa yang setiap hari anda lihat di kampus UNY. Bedanya kami ada di kampus Universitas Jember, Jawa Timur.

Namun satu hal di kampus UNY mungkin bisa membuat anda mengenali kami, tanpa penjelasan panjang lebar yang perlu kami tulis. Anda mungkin pernah menengok sebuah ruangan di lantai dua gedung Student Center (SC) UNY, dengan papan bertuliskan ‘LPM Ekspresi’. Atau mengenali orang-orang beridentitaskan anggota LPM Ekspresi yang pernah menemui anda di kampus UNY. Maka ada kesamaan antara kami dan anggota LPM Ekspresi. Kami sama-sama bergiat di sebuah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).

Mungkin dalam pandangan anda, kami hanyalah sekumpulan mahasiswa yang suka cari perhatian. Dengan cara membuat tulisan dan memberitakan sisi negatif sebuah instansi pendidikan. Menjadi benalu bagi kampus, atau kami hanyalah mahasiswa yang kerap mengganggu, dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada pejabat instansi seperti anda.

Namun perlu juga anda ketahui, bahwa apa yang sedang kami lakukan bukan semata-mata untuk mengganggu waktu atau pekerjaan seseorang. Ada hal yang lebih penting untuk diketahui publik. Di saat-saat seperti itu, kami sedang menghimpun informasi dari berbagai sumber. Bukan pekerjaan mudah. Malah terkadang jadi menjengkelkan ketika sang narasumber meminta kami untuk menunggu berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan tidak bersedia memberikan informasi sedikitpun.

Pak Rektor yang berbahagia, hal itu hanya sebagian kecil dari aktivitas kami. Namun itu belum seberapa. Karena masih ada proses panjang nan melelahkan yang harus kami lakukan. Usai menghimpun informasi dari berbagai sumber, kami masih harus melakukan proses verifikasi. Kami bandingkan kebenaran-kebenaran yang berasal dari sumber satu dengan sumber lainnya. Dari data A dengan data B, C, dan seterusnya. Bagi kami sederhana saja, agar kami tak ‘bias’ dalam menuliskan berita yang akan dibaca publik.
Tak cukup di situ, kami harus menuliskan laporan secara teliti. Melakukan tahap penyuntingan, sampai pada pracetak media.

Mungkin surat ini akan jadi lebih panjang jika kami jelaskan secara rinci soal proses penerbitan sebuah media. Tentunya akan melelahkan bagi anda untuk membaca surat kami. Dan kami pun tak hendak mengganggu waktu kerja anda dengan melayangkan surat yang terlampau panjang.

Pak Rektor yang bijak, maaf bila apa yang kami tulis di atas tak ada bedanya dengan celotehan anak kecil yang manja dan suka merengek gara-gara tidak boleh bermain layang-layang. Kalau begitu kami akan bercerita sedikit hal yang menyenangkan. Ada satu hal sederhana bagi kami yang bisa membayar semua proses panjang ketika kami menerbitkan sebuah media. Mengambil tumpukan eksemplar buletin atau majalah dari percetakan, lalu membagi-bagikan kepada setiap mahasiswa, dosen, dan pejabat-pejabat di kampus seperti anda. Seluruh keringat dan jerih payah kami selama mondar-mandir menghimpun data pun terbayar ketika melihat media kami dibaca oleh khalayak di kampus. Terlebih jika muncul kritikan atau saran kepada media yang kami terbitkan, kami akan semakin senang.

Namun kami sangat kecewa apabila ada pihak-pihak tertentu yang tidak menghargai hasil kerja kami. Baiklah, mungkin pihak tersebut tidak paham betul dengan pentingnya sebuah informasi, atau lebih parahnya tidak mengenal sama sekali budaya literasi—buta literasi.

Pak Rektor yang kami hormati, kami dengar di kampus UNY juga terjadi pengekangan terhadap aktivitas pegiat pers mahasiswa di LPM Ekspresi?

Bahkan dalam sebuah surat terbuka, disebutkan bahwa Rektor UNY merampas 150 eksemplar buletin EXPEDISI terbitan LPM Ekspresi saat buletin tersebut akan disirkulasikan. Apakah betul anda melakukannya, Pak?  Kami sempat tidak percaya dengan kabar tersebut. Mengingat di kampus UNY anda dikenal sebagai guru besar lulusan S3 bidang Bimbingan & Konseling. Kabarnya anda juga sempat menempuh pendidikan di luar negeri, kan?

Kami kira, anda tentu lebih paham tentang Paulo Freire ketimbang kami. Tapi satu hal yang selalu kami idam-idamkan ketika bicara soal Freire adalah adanya pola interaksi yang lebih manusiawi di tiap instansi pendidikan, seperti kampus misalnya. Manusiawi maksud kami, pola interaksi yang dialogis. Tidak ada satu pihak yang mendominasi atau menghegemoni. Sehingga akan lebih banyak dialektika yang muncul dari tiap ruang yang ada di kampus.

Anda mungkin juga perlu menengok kabar yang tersebar di jejaring sosial soal perampasan media terbitan LPM Ekspresi—atau coba anda telusuri dengan keyword pemberedelan LPM Ekspresi, Pak Rektor. Karena beberapa hari ini kami juga mengikuti perkembangan informasinya. Kabarnya juga, Jumat (29/8) kemarin staf-staf anda telah menggelar audiensi bersama pengurus LPM Ekspresi. Namun setelah kami ikuti perkembangannya, anda tidak hadir dalam audiensi tersebut.

Kami pun tak sempat mendengar kabar mengapa anda tidak dapat hadir dalam audiensi tersebut. Apakah anda sedang ada jadwal rapat di luar kota, sedang mengisi kuliah umum di luar negeri, atau bagaimana. Kami dan ribuan orang di dunia maya akhirnya hanya bisa menduga-duga. Sekaligus berharap agar alasan anda tidak hadir dalam audiensi, bukan karena tidak berani berdialog dengan pihak terkait. Lantas mengirimkan staf-staf anda untuk bertemu dengan pihak LPM Ekspresi. Semoga anggapan itu salah.

Sangat miris rasanya ketika mendengar kicauan di jejaring sosial yang membicarakan soal tindakan anda. Kabar pembredelan tersebut dianggap sebagai tindakan orang primitiv yang menyelesaikan masalah dengan kekuatan otot, barbar, tidak manusiawi, dan lain sebagainya. Sedangkan anda disebut sebagai Rektor Orba, Rektor Hyperphobia, Arogan, Pengecut, Tidak Becus, dan sebagainya. Jika kami dalam posisi anda, tentu kami sangat malu karena setiap jam mendapat perkataan seperti itu di dunia maya.

Baiklah, sembari menunggu kabar atau balasan surat dari anda, kami rasa sebagai orang nomor satu di UNY, anda perlu mengambil langkah untuk menyelesaikan atau membenarkan segala tuduhan yang ditujukan kepada anda. Sebelum pada akhirnya kabar tersebut menyebarluas di dunia maya dalam beberapa jam atau hari ke depan.

Sebelum mengakhiri surat ini, anda tentu ingat denga sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa “Diam itu emas.” Beberapa orang percaya akan peribahasa itu. Dalam keadaan seperti sekarang, mungkin anda juga mengamininya. Tetapi bukankah banyak sekali cara yang sudah ditemukan untuk memeriksa kadar keaslian emas, apakah emas itu murni atau sepuhan?

 

Salam hangat dari kami,
Para awak LPMS-Ideas

 

Ditulis di ruang sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS-Ideas), yang kini ukurannya semakin kecil pasca renovasi gedung UKM dan penyekatan ruang sekretariat secara sepihak oleh Pembatu Dekan III Fakultas Sastra Universitas Jember

 

Jember, 31 Agustus 2014

 

(Baca Juga Surat Terbuka Dari LPM Ekspresi: Surat Terbuka Ditujukan Kepada Rektor UNY)

Komentari
To Top