Kolom

Ruang Kritis, Ruang Humanis

Ego (Ilustrasi: Jonathan Susanto / jonathanmsusanto@me.com)

Menjadi kritis ibarat memilih jalan pedang. Selalu ada resiko untuk melukai, dan dengan demikian balik dilukai. Kita akan lebih “aman” dan “damai” ketika memilih diam, menjauh dan tidak terlibat. Itulah sebabnya saya mahfum mengapa tidak banyak orang, orang-orang perguruan tinggi sekalipun, yang memilih menjadi kritis.

Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa,  saya sering merasa marah karena melihat dosen-dosen saya, dan juga kawan-kawan saya sesama mahasiswa, yang lebih suka memilih diam, memilih tidak terlibat, ketika di sekelilingnya bertebaran hal-hal konyol yang seharusnya dikritisi. Tapi bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa kemarahan saya itu tidak seluruhnya benar. Seharusnya sejak awal saya menyadari bahwa tidak semua orang, termasuk sebagian besar dosen dan mahasiswa pada waktu itu, memiliki kapasitas yang mencukupi untuk menjadi kritis. Tentu saja saya tidak menyalahkan diri saya sendiri mengenai “kesadaran yang terlambat” ini, karena hal semacam itu sangat manusiawi. Yang lebih penting adalah kehendak untuk mau mengerti, dan mau mengerti adalah anak tangga pertama menuju “tahu diri”. Bukankah tahu diri adalah intisari pendidikan yang kita peroleh sejak lahir hingga mati? Percuma kita belajar hingga ke negeri Cina untuk tahu segala hal, tapi gagal mengetahui diri sendiri.

Sampai sekarang saya tetap menganggap bahwa berpikir kritis adalah menu utama di meja makan seorang akademisi. Jika sebuah pesta untuk mahasiswa dihelat, lalu seribu menu disuguhkan, tapi tidak ada makanan yang bernama “berpikir kritis”, pesta itu palsu belaka. Pesta semacam itu lebih cocok untuk para politikus dan selebritas. Oleh karena itu ketika saya masih menjadi mahasiswa, saya merasa beruntung karena Prof. Siman Hadi, Rektor Unej waktu itu, memberi jaminan perlindungan bagi para mahasiswa yang bersikap kritis, asal hal itu dilakukan di dalam kampus. Dan itulah sebabnya saya dan kawan-kawan dalam berkesenian, terutama saat berpentas di dalam kampus, cukup berani mengkritik siapa pun. Jangankan mengkritik Unej, mengkritik Presiden Soeharto yang ketika itu tengah berada di puncak kekuasaannya pun kami berani lakukan. Ketika belum ada orang yang berani mengolok-olok Soeharto melalui kesenian di atas panggung, dengan cara menirukan dan memelesetkan gaya pidatonya, kami telah melakukannya di banyak kesempatan.

Selain Soeharto, yang menjadi sasaran olok-olok kami tentu saja orang-orang dekat, yakni para mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas, pimpinan universitas, dan para karyawan. Misalnya para mahasiswa yang cuma pandai ngeceng tapi otaknya otak udang; para dosen yang datang ke kampus cuma untuk ngajar dan ambil gaji, tapi tidak pernah sudi berkeringat bersama mahasiswa di luar kelas; pimpinan ala birokrat yang pekerjaannya cuma duduk di belakang meja, seolah-olah kampus ini warisan kakek-moyangnya; karyawan yang suka menjadikan urusan sederhana jadi rumit. Kritik-kritikan itu kami sampaikan lewat kesenian. Kami punya grup kentrung dan teater, yang dikenal sebagai tukang kritik. Tapi kami (hampir) tidak pernah diprotes pihak manapun sebagai akibat dari berbagai kritikan yang kami lontarkan, karena kami sepakat dengan asumsi bahwa pada dasarnya tidak ada satupun orang waras di muka bumi ini yang suka dikritik, terlebih dikritik dengan cara direndahkan, dilecehkan, atau dinistakan. Kritikan itu kami bangun berdasarkan tujuannya: menjadikan suatu hal lebih baik dari sebelumnya. Maka, menang tanpa ngasorake adalah kredo kami.

Ketika Tim Pakar Unej (yang dipimpin Rektor) saya nilai melakukan kongkalikong dengan Bupati Jember perihal layak-tidaknya Jember jadi Kota Madya, saya menulis artikel di Radar Jember bahwa “Unej telah melakukan skandal yang sangat memalukan; sebuah skandal yang hanya mungkin dilakukan oleh para cecunguk.” Unej tidak marah. Setidak-tidaknya saya tidak menerima teguran dari Unej, apalagi umpatan atau ancaman. Saya berkesimpulan bahwa Rektor Unej dan jajarannya dapat legawa menerima kritik saya.

Bagi saya, berpikir kritis itu penting, tapi pikiran kritis yang dilandasi etika jauh lebih penting lagi. Maka ketika di FS-Unej merebak perdebatan (melalui media sosial) mengenai kebijakan dan perilaku PD II, disusul kebijakan dan perilaku PD III, yang oleh sebagian mahasiswa dinilai menjengkelkan, tidak demokratis, otoriter, dan sebagainya, saya melibatkan diri. Perdebatan semacam itu seharusnya selalu terjadi, dengan topik apa saja, berat atau ringan. Tapi yang saya harapkan tentu saja perdebatan yang menyenangkan, gurih dan renyah, yang pada akhirnya semakin memperkaya jiwa dan imajinasi kita. Bukan perdebatan yang mengarah pada banalitas, yakni diskusi mengenai hal-hal penting yang dijerumuskan menjadi gosip, hujatan dan caci-maki.

Ketika ada seorang mahasiswa lewat statusnya di Facebook mengumpat (pejabat fakultas) dengan kalimat: “Bu, pekokmu ra mari-mari. Pekok dipelihara.” Saya, dengan perasaan sedih, langsung berkomentar di bawah status tersebut: Inti dari seluruh pendidikan yang kita capai sejak lahir hingga mati adalah: tahu diri. Terjemahan frasa ini sangat panjang, termasuk: “tahu cara berpendapat dengan baik”, dan “tahu cara menjaga mulut”. Atas komen saya tersebut, ada mahasiswa yang berkomentar: “hari gini disuruh beretika?” Kemudian seorang mahasiswa lainnya menimpali: “pimpinan sidang paripurna aja gak punya etika.” Saya selalu berusaha menenangkan dan menyabarkan diri ketika menghadapi pernyataan-pernyataan murahan semacam ini, dengan cara menasehati diri saya sendiri: “Tenang saja, bro, kamu tidak bisa berharap semua orang punya moralitas dan intelektualitas yang selevel denganmu”.

Kenapa etika saya anggap sangat penting? Karena etika adalah elemen universal yang tidak pernah bisa dikesampingkan kehadirannya. Ia adalah lorong utama bagi siapa pun dalam mewujudkan pikiran-pikiran kritisnya, dalam meratakan jalan kemanusiaan dan keadilan untuk menemukan dirinya sendiri. Seperti elemen-elemen universal lainnya, kesadaran mengenai pentingnya etika hanya menunggu waktu. Jangan ditanya alasan logis-ilmiahnya. Percuma, hanya buang-buang waktu, karena setiap elemen universal tidak membutuhkan definisi atau catatan kaki.

Saya selalu merindukan suasana kampus yang asyik. Karenanya saya ingin bercerita tentang Pak Pujo, dekan saya di FIB UGM yang cukup fenomenal. Dekan yang satu ini masih muda, tapi yang dikerjakan dan dilakukannya sering bikin orang terkaget-kaget. Misalnya setiap kali bertemu dengan dosen-dosen senior (dulu adalah para dosennya) dia selalu mencium tangan mereka. Beberapa kawan saya merasa risih melihat hal itu, menganggapnya sebagai feodalistik, konyol, dan kekanak-kanakan. Saya buru-buru mengatakan pada kawan-kawan saya tersebut, bahwa mereka sedang melihat kebudayaan Jawa. Pak Pujo, sebagai dosen dan ilmuwan, sangat kenceng di ruang-ruang ilmiah. Para seniornya tersebut sering didebatnya habis-habisan. Tapi di ruang-ruang humanis, dia akan menjadi good boy, termasuk tak segan-segan mencium tangan para mantan gurunya. Bagaimana mungkin dia bisa sedemikian kenceng di ruang ilmiah, tapi menjadi good boy di ruang humanis? Karena, saya kira, dia menempatkan dirinya sebagai orang Jawa. Nah, bagaimana mungkin kita memandang Jawa dengan perspektif non-Jawa? Bisa saja sih, tapi itu bisa menghasilkan kesimpulan yang tidak adil. Oleh karena itu semiotika, dekonstruksi, strukturalisme, critical discourse, atau teori-teori apa pun di dunia ini tidak akan pernah bisa menjadi panacea, obat ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Pak Pujo, ketika baru dilantik jadi dekan, tiba-tiba mengeluarkan larangan: “Semua mobil dilarang masuk halaman FIB. Parkir harus di luar halaman.” Maka para dosen, termasuk para guru besar (yang memang punya karya-karya besar), rela berjalan agak jauh setelah memarkir mobilnya. Sekarang di halaman FIB, bekas tempat parkir mobil itu, dijadikan halaman berumput dengan deretan meja-kursi untuk mahasiswa berinternet atau sekedar kongkow-kongkow. Padahal halaman itu dulunya berpaving. Ini agak aneh, karena di tempat-tempat lain, termasuk di FS-Unej, rumput-rumput justru dilenyapkan diganti paving.

Bagaimana komitmen akademis Pak Pujo terhadap mahasiswa? Saya agak kaget ketika seorang kawan saya bercerita bahwa dekan muda yang cenderung eksentrik itu, dengan dana pribadi, memberi beasiswa pada banyak mahasiswanya. Sekian banyak mahasiswa sudah dikirimnya ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri, untuk melakukan berbagai penelitian. Padahal, saya pikir, kalau penelitian-penelitian itu dikerjakannya sendiri, tanpa melibatkan mahasiswa, tiap tahun dia bisa ganti mobil baru.

Meski sudah tiga tahun menjadi mahasiswa di FIB-UGM, saya tidak kenal secara pribadi dengan Pak Pujo. Tapi saya selalu ingin menceritakan orang-orang “aneh” seperti dia. Saya selalu ingin menyampaikan pesan sederhana ini pada kawan-kawan dan adik-adik saya, bahwa persoalannya tidak melulu pada jalan yang kita pilih, melainkan pada jejak yang akan kita tinggalkan. Perguruan Tinggi tidak akan pernah mengabsen penghuninya yang kehadirannya lewat jalan pengelabuhan. Ia akan membiarkan si pecundang pergi sembari mengempit kebanggaan palsu. Tapi jangan lupa, hutang sejarah harus diangsur hingga lunas. Kalau tidak di dunia, mungkin di akhirat.[]

Komentari
To Top