Kampus

Ancam pakai kekerasan, FPI bubarkan pemutaran film Senyap di Jember

Panitia pemutaran melakukan negosiasi bersama FPI Jember agar pemutaran film Senyap tetap dilakukan. Namun usaha tersebut gagal karena FPI Jember mengancam akan datangkan massa lebih banyak jika film Senyap tetap diputar.
(Foto: Dani)

Kelompok organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI) Jember, membubarkan acara pemutaran dan diskusi film Senyap atau The Look of Silence, pada Sabtu (20/12), di Universitas Muhammadiyah Jember.

Mulanya panita penyelenggara menerima pesan singkat, berisi larangan memutar film berlatar sejarah pembantaian massal anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa Orde Baru tersebut. “Sebelum acara mulai, ada SMS berisi ancaman dari orang yang mengatasnamakan FPI dan Polres Jember,” kata Elmi Aulia Bayu Purna, direktur Layar Kemisan.

Saat acara akan dimulai, panitia sudah mencurigai kehadiran dua orang lelaki. Seorang lelaki bersarung dan berpeci putih, satu lainnya mengenakan jaket kulit warna hitam. Begitu film Senyap diputar, mereka mendesak panitia agar menghentikan pemutaran. Mereka juga sempat mengancam akan mendatangkan massa yang lebih banyak bila panitia melanjutkan pemutaran.

Agenda pemutaran yang mulanya dijadwal pukul 19.00 pun molor selama sekitar satu jam karena sempat terjadi perdebatan antara pihak FPI Jember dengan panitia acara. “Kalau film ini hanya dinilai dari segi fotografi, sinematografi, dan pengambilan gambarnya tidak masalah. Silahkan saja,” kata Muhammad Zakariya Al Anshori, Sekretaris FPI Jember saat diwawancarai Persmaideas.com.

“Yang jadi masalah ini kan isi filmnya. Seakan-akan mengajak penonton untuk simpati terhadap PKI,” tukasnya.

Setelah panitia berdiskusi dan bernegosiasi dengan FPI Jember, panitia terpaksa menghentikan sesi pemutaran film. “Kami khawatir pada keselamatan penonton yang sudah datang,” kata Fauzi Rahmadani, program officer Layar Kemisan saat ditemui usai acara.

“Selain itu kami juga tak ingin ada konflik berkepanjangan, karena mereka mengancam akan menggunakan cara anarki jika pemutaran tetap dilanjutkan,” kata Fauzi menyikapi ancaman kekerasan yang dilakukan FPI Jember.

Acara yang dimotori oleh kelompok kolektif pemutar film Layar Kemisan bekerjasama dengan Pers Mahasiswa Aktualita Universitas Muhammadiyah Jember ini, akhirnya terpaksa hanya berlanjut dengan agenda diskusi. Sementara itu puluhan peserta diskusi yang berasal dari berbagai komunitas film indie dan organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember, merasa kecewa atas ancaman kelompok ormas islam tersebut.

“Ini negara demokratis, masa masih pake cara sepihak yang mengutamakan kepentingan golongan. Kalau begitu FPI tak mampu menerima perbedaan,” kata Didik Saputra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember yang turut hadir dalam diskusi tersebut.*

2 Komentar
To Top