Buku

Melihat Sudut Pandang Berbeda Melalui David and Goliath

Buku David and Goliath. (Foto: Rosy)

“Selama ini, kita telah bercerita secara keliru. David and Goliath berusaha meluruskannya.” tulis Malcolm Gladwell

Saya sedang berbaring di kasur, sedangkan ibu duduk di samping saya. Seperti biasa, dia membacakan cerita. Ibu membuka kitab I Samuel pasal 17. Saat itu saya masih di bangku taman kanak-kanak dan itulah pertama kalinya saya mengenal Daud dan Goliat. Sebuah kisah dimana Daud, seorang penggembala kambing domba yang bersenjatakan ketapel menang melawan Goliat, tentara Filistin yang bertubuh besar, lengkap dengan baju zirah, pedang dan perisai. Cerita ini nampak luar biasa bagi saya.

Bertahun kemudian, seseorang mengenalkan saya dengan sosok Daud dan Goliat yang lain. Dia menarasikan sosok Daud yang berada di posisi artileri, prajurit dengan proyektil atau pelontar batu. Dengan posisi ini, Daud mudah saja membunuh Goliat cukup dengan kekuatan lontaran 34 meter per detik. Di posisi lain, Goliat sebagai infanteri, prajurit berjalan kaki dengan zirah, pedang dan perisai. Namun tubuh besar malah membuatnya kalah. Goliat diduga menderita akromegali, sehingga ia kelebihan hormon pertumbuhan. Kelainan ini yang menyebabkan matanya rabun, itulah mengapa Goliat hanya bisa bertarung dengan jarak dekat. Goliat memang infanteri yang kuat, tapi tidak dihadapan artileri.

“Daud seorang pelontar, dan pelontar selalu mengalahkan infanteri.” tulis Malcolm Gladwell. Ya, Gladwell-lah yang mengenalkan saya pada Daud dan Goliat yang lain. Sekarang saya tahu bagaimana Daud bisa menang.

Cerita Daud dan Goliat adalah pengantar dari cerita-cerita berikutnya. Gladwell menuliskannya pada buku setebal 301 halaman berjudul asli David and Goliath, Underdog, Misfits, and the Art of Battling Giants. Buku ini terbagi atas tiga bagian dengan masing-masing tiga bab. Sembilan bab yang semuanya memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari olahraga, sejarah, kedokteran, pendidikan, seni, politik, hukum, psikologi, dan sebagainya yang mewakili banyak hal yang terjadi di dunia.

Gladwell juga melibatkan banyak tokoh dalam ceritanya. Mulai yang penting sampai yang kurang penting. Ada cerita tentang tim basket puteri, tentang guru dan kelas yang efektif, tentang orang-orang besar yang didominasi anak yatim atau piatu, tentang bagaimana seseorang memilih universitas, pelukis impresionis di Paris, disleksia, laukimia, Blitz di London, pergerakan hak sipil di Amerika, kriminalitas di Brownsville, seteru antara Protestan dan Katolik di Irlandia Utara, tentang orang tua yang kehilangan anaknya, juga tentang orang Yahudi yang sembunyi di Le Chambon Prancis.

Semuanya dinarasikan Gladwell dengan penalaran kurva U terbalik. Sebuah statistik yang menjungkir balikan pemikiran mengenai kemenangan, bahwa tidak selamanya yang lemah akan kalah. Semua cerita itu dianalogikan dengan Daud dan Goliat.

Namun saya melihat tidak semua bab dapat dihubungkan dengan analogi Daud dan Goliat. Mungkin bisa, tetapi itu terkesan dipaksakan. Ambil satu contoh mengenai cerita tentang Wilma Derksen, seorang ibu yang kehilangan putri belianya. Putrinya dibunuh seorang kriminil. Tetapi Derksen memilih memaafkan si pembunuh. Derksen hidup damai bersama suami, keluarga, dan teman-temannya.

Gladwell membandingkan Derksen dengan Mike Reynolds. Putri Reynold juga dibunuh kriminil. Reynolds mengkampanyekan hukum Three Strikes, hukuman pada orang yang divonis bersalah melakukan pelanggaran serius atau kriminal untuk kedua kali di California. Pelanggar akan menjalani hukuman dua kali lipat dari yang tertulis di undang-undang. Banyak orang mendukung dan akhirnya hukum itu disahkan. Setelah menghabisakan banyak anggaran, bertahun kemudian mereka mendapati hukum ini tidak berhasil. Gladwell menyatakan Derksen lebih bijak dari Reynols, karena dia memaafkan.

“Seorang perempuan yang menjauh dari janji kekuasaan negara karena menemukan kekuatan untuk memaafkan –lalu menyelamatkan persahabatan, pernikahan, dan kewarasanya.” Kurva U terbalik memang berlaku untuk cerita ini. Lalu? Siapa yang lemah dan siapa yang raksasa? Siapa Daud dan siapa Goliat? Saya kira Derksen dan Reynold berada di posisi yang sama.

Mungkin raksasa bisa saja berupa kriminalitas, atau mungkin rasa dendam. Saya tidak menemukan penjelasan Gladwell disini. Saya hanya bisa menerka-nerka.

Terlepas dari itu, salah satu cerita yang menurut saya menarik adalah mengenai pengidap disleksia. Disleksia adalah gangguan penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga terjadi kesulitan membaca. Gladwell menemukan, kelemahan inilah yang membuat beberapa orang menjadi luar biasa.

Gladwell menyebutkan, banyak orang sukses mengidap disleksia. Diantaranya Richard Brandon, pengusaha miliander Inggris; Charles Schwab, pendiri pialang diskon; Craig McCaw, perintis telepon seluler; Davis Neelman, pendiri JetBlue; John Chambers, CEO raksasa teknologi Cisco; Paul Orfalea pendiri Kinko’s dan sebagainya.

Ada tiga orang yang diceritakan kisahnya oleh Gladwell. Pertama, David Boies, pengacara sidang yang terkenal di dunia. Boies disleksia dan kesulitan untuk berkomunikasi di saat-saat tertentu. Namun ia memaksimalkan kemampuan mendengarnya untuk belajar banyak hal, termasuk hukum.

Brian Glazer produser film paling berhasil di Hollywood dalam tiga puluh tahun terakhir. Glazer sering mendapat nilai F di sekolah. Nyatanya, dia berhasil lulus dan melanjutkan studi ke universitas. Yang dilakukan Glazer adalah bernegosiasi dengan guru dan temannya. Dia gigih. Kebiasaan bernegosiasilah yang membuatnya seperti sekarang.

Terakhir Gary Cohn presiden bank Goldman Sachc. Sama seperti Boies dan Glazer, Cohn juga memiliki masalah dengan sekolah. Bagaimana tidak, Gary Cohn membutuhkan waktu enam jam untuk membaca 22 halaman.

“Disleksia tak mesti membuat orang lebih terbuka dan lebih gigih (walau memang bisa). Tapi kemungkinan paling menarik yang ditimbulkan gangguan tersebut adalah bahwa disleksia mungkin memudahkan orang jadi tidak ramah.” tulis Gladwell. Sifat tidak ramah inilah yang membuat Cohn berani berbohong sebagai trader pada seorang pengusaha Wall Street. Cohn belajar strategi berinvestasi dan dia berhasil.

Dari cerita-cerita itu, Gladwell menarasikannya dengan sangat bagus, lengkap dengan detail-detail seperlunya. Saya tidak meragukan kemampuan Gladwell menarasikan cerita dari narasumber. Mungkin ini pengaruh pekerjaannya sebagai staf penulis di The New Yorker dari 1996.

Gladwell selalu mengaitkan satu tokoh dengan tokoh lain di bab sebelum atau sesudahnya, lalu memberikan perbandingan. Dia juga memainkan alur. Anda akan menemukan cerita di tengah cerita lainnya. Dan dari cerita yang mewakili banyak hal di dunia, kita diajak melihat sebuah sudut pandang lain. Sudut pandang inilah yang menjadi keunggulan Gladwell dalam David and Goliath dan buku-bukunya yang lain.

Dalam buku ini, kita kembali diingatkan bahwa setiap orang memiliki kelemahan atau kesukaran. Pilihannya hanya, apakah kita berani menjadikan kelemahan atau kesukaran menjadi senjata yang dapat mengalahkan ‘Goliat’? Selamat membaca! []

 

Judul: David and Goliath, Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa

Penulis: Malcolm Gladwell

Alih Bahasa: Zia Anshor

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Ketiga, Februari 2014

Tebal Buku: 301 halaman

ISBN: 978-979-22-9954-0

Komentari
To Top