Berita

Kenalkan Pantomim Pada Masyarakat

Teater pantomim berjudul Penggembur Tanah Retak yang dipentaskan oleh Komunitas Pantomim Anak Negeri Dongeng.
(Foto: Rosy)

“Saya kurang bahagia karena yang menonton hanya mahasiswa, bukan orang pasar, orang perumahan, atau orang yang suka ke mall-mall,” ungkap Faisal Riza, Pengagas Komunitas Pantomim Anak Negeri Dongeng, Banyuwangi. Minggu (28/2), Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa dimeriahkan oleh Pementasan Teater Tiga Kota, yang digelar selama tiga hari. Tiga kota tersebut meliputi Jember, Banyuwangi, dan Surabaya. Komunitas Pantomim Anak Negeri Dongeng tampil pada hari pertama pementasan.

Pemain-pemain yang tergabung dalam Komunitas Pantomim Anak Negeri Dongeng berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa sekolah dasar, sekolah menengah, pedagang, sampai kuli bangunan. Faisal menjelaskan bahwa munculnya keinginan mereka untuk terjun di dunia pentas berawal dari sosialisasi. “Itu sebenarnya berangkat dari sosialisasi pantomim,” jelasnya.

Pada kesempatan kali ini, Komunitas Pantomim Anak Negeri Dongeng menampilkan teater berjudul Penggembur Tanah Retak. Sebuah teater yang mengisahkan tentang kehidupan dan kematian, juga usaha manusia untuk mencapai keberhasilan. Semua diceritakan dengan pantomim oleh lebih dari satu tokoh. Faisal menjelaskan, pantomim erat dengan imajinasi penonton. Penonton diajak untuk menerka setiap gerakan pemain. “Karena gerak itu gak bisa kayak ngomong, jadi pakai simbol,” jelas Faisal yang sekaligus sutradara dari pementasan ini.

“Pokoknya orang seni itu, kalau diberi panggung saja sudah gembira,” ujar Faisal dalam bahasa Jawa.

Faisal mengaku, komunitasnya lebih sering tampil di kegiatan hajat masyarakat. Meski kebanyakan masyarakat belum paham sepenuhnya makna pantomim, mereka lebih tertarik pada adegan komedinya saja. “Kalau pentas karya begini di Gedung Juang, sisanya di tanggapan sunatan dan sebagainya. Hanya saja dikurangi, jadi adegannya lebih ringan. Sambil ngomong ke mereka (masyarakat) bahwa badut beda dengan pantomim,” tukas Faisal.

“Sebenarnya kalau kita tampil, mereka mau minta lagi,” cerita Faisal ketika komunitasnya diminta pentas dalam suatu acara sunatan. Namun Faisal sadar ruang untuk berkreasi masih sangat minim, terutama untuk pantomim. Faisal berharap komunitasnya dan pegiat seni lain bisa berkreasi dengan maksimal. “Ruang-ruang untuk kita itu yang harus diperbanyak,” kata Faisal.

“Ya harapan saya yang menonton masyarakat umum, guru-guru juga, tidak hanya mahasiswa,” tambah Faisal. Ia ingin agar pementasan semacam ini tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa dan dosen saja. Faisal ingin mengenalkan dunia pantomim pada masyarakat.[]

Komentari
To Top