Kolom

Kegagapan Pembangunan Fakultas Sastra Universitas Jember

Taman Fakultas Sastra Universitas Jember.
(Foto: Abdul Haris/Ideas)

Sejarah Indonesia pada zaman Orde Baru adalah sejarah pembangunan besar-besaran.

Masih teringat di kepala saya dan mungkin para pembaca bahwa sebutan ‘Bapak Pembangunan’ diberikan kepada Soeharto sebagai presiden saat itu. Bagaimana berbagai proyek pembangunan besar-besaran bermunculan. Seoharto dalam pertemuan Gubernur se-Indonesia Desember 1971 di Istana Negara meminta para gubernur untuk melakukan penghematan dan lebih memprioritaskan keuangan pada agenda pembangunan.

Selain itu pada pertemuan yang sama, sehari setelahnya, Ibu Tien menyampaikan keinginannya membangun Taman Mini Indonesia Indah. Proyek yang rencananya akan menghabiskan dana sebesar Rp 10,5 Miliar tersebut akan dibangun dengan uang sumbangan dari tiap Gubernur yang jumlahnya sudah ditetapkan sejumlah Rp 50.000.000 per provinsi1.

Kekuasaan Orde Baru meminjam istilah Wisnu Prasetyo Utomo dalam bukunya Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan, mulai menunjukkan arogansinya dengan bentuk pembangunan yang serampangan. Tapi apakah benar pembangunan adalah sebuah bentuk arogansi? Saya rasa tidak semua pembangunan adalah sebuah bentuk arogansi. Memang pembangunan yang dilakukan oleh Orde Baru adalah sebuah arogansi. Karena pembangunan yang dilakukan, tidak melihat konsekuensi yang akan ditanggung oleh negara.

Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh pimpinan Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ). Berbagai renovasi dan proyek-proyek pembangunan baru yang pastinya menghabiskan banyak biaya pun dilakukan. Usaha tersebut menurut para birokrat kampus adalah upaya untuk mempercantik fakultas yang akan segera berganti nama dari Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Sebagai salah satu mahasiswa FS UJ, saya tentu akan sangat mendukung usaha pimpinan untuk mengembangkan kampus.

Tapi sebagai mahasiswa saya juga tidak bisa tinggal diam jika apa yang dilakukan oleh pihak pimpinan adalah sebuah bentuk arogansi. Kenapa saya menyebut usaha pihak pimpinan FS UJ sebagai bentuk arogansi? Karena pembangunan yang dilakukan –khususnya dalam hal ini dilakukan oleh Pembantu Dekan II (PD II) yang tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan di bidang keuangan dan administrasi umum sama seperti yang dilakukan oleh Soeharto ketika sedang menjabat sebagai presiden. Maksud saya adalah pembangunan yang serampangan dan kebablasan.

Jika ditarik ke dalam ilmu filsafat, apa yang dilakukan oleh pimpinan FS UJ tidak mempertimbangkan dasar-dasar yang harus dipelajari lebih dahulu. Dalam filsafat ada tiga cabang yang harus dipelajari sebagai dasar, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga cabang tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan dalam ilmu filsafat. Dilihat dari apa yang sudah dibangun dan apa yang akan dibangun oleh pimpinan FS UJ, ada sebuah kegagapan pembangunan.

Kegagapan itu menurut saya selalu menjadi pledoi serta menjadi hal yang selalu dibanggakan oleh pihak birokrasi FS UJ. Di sini saya mengamini pernyataan Slavoj Zizek bahwa yang membuat hidup ini sangat tertekan adalah “melihat orang bodoh bahagia”.

Contoh utama bagaimana kegagapan birokrasi FS UJ dalam pembangunan adalah pembangunan taman dan double way yang diresmikan pada tanggal 1 Maret 2016.

Baik, marilah kita menuju tiga cabang yang ada dalam filsafat tadi. Aspek ontologinya adalah taman dan double way, tentu birokrasi FS UJ tahu apa pengertian dan bagaimana bentuk kedua hal tersebut. Lalu aspek epistemologi, bagaimana cara memperoleh taman dan double way. Tentu dengan megeluarkan uang dan membangun dua hal itu.

Saya percaya bahwa pimpinan FS UJ khususnya PD II pasti tahu bagaimana caranya, coba lihat saja aksesoris yang dia pakai sehari-hari. Lalu yang terakhir, aspek yang menurut saya sedikit dilupakan dan membuat kegagapan pembangunan. Aspek aksiologi, di situ dibicarakan apakah guna taman dan double way yang dibangun.

Seharusnya ketiga aspek tersebut harus selesai sebelum melakukan pembangunan. Tapi semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur dan bubur sudah dihabiskan oleh bromocorah. Taman sudah selesai dibangun dan sistem double way sudah diterapkan. Saya sebagai mahasiswa, gelisah. Sebenarnya lebih penting yang mana antara taman dan double way atau proyektor dan kelengkapan kelas dalam hal mendukung kegiatan belajar mengajar. Kegelisahan itu semakin pekat ketika saya memikirkan bahwa ada yang dilupakan, yaitu aspek aksiologi.

Krisis Identitas

FS UJ sebentar lagi akan berubah nama menjadi FIB dan setelahnya akan banyak sekali perubahan dalam hal kurikulum sampai penampilan bangunan kampusnya. Kemungkinan terbesar pembangunan pesat yang sedang berlangsung di FS UJ ini adalah salah satu usaha untuk menyambut nama baru fakultas. Tapi jika ditelaah kembali, apakah pembangunan yang dilakukan adalah sebuah usaha penyambutan nama baru atau sebuah usaha mencari jati diri.

Ijinkan saya mengutip salah satu kalimat yang dikeluarkan oleh Dekan FS UJ dalam acara peresmian taman dan double way FS UJ, “Kata salah satu dekan dari fakultas lain, sastra sudah seperti hotel bintang lima.” Kalimat tersebut disambut dengan banyak tepuk tangan dan tawa –mungkin– bangga. Logika saya sepertinya sedang cacat dan dipermainkan, atau malah sebaliknya. Bagaimana mungkin sebuah institusi pendidikan disamakan dengan hotel bintang lima dan orang-orang yang ada dalam institusi tersebut bangga.

Apakah estetika bangunan sebuah institusi pendidikan dan sebuah hotel berbintang lima bisa disamakan? Adakah kesamaan nilai fungsi dari bangunan sebuah perguruan tinggi dengan hotel berbintang lima? Jika jawabannya bisa dan ada, maka apakah yang lahir dari institusi pendidikan tersebut?

Halim Bahris dalam tulisannya yang berjudul Estetika Kebablasan Dalam Arsitektur Masjid Jami’ Al-Baitul Amin mengatakan bahwa kekuatan nilai estetis yang menawarkan kepuasan psikologis lebih, seringkali mengecoh. Maksudnya, bentuk luar yang terlihat dari sebuah bangunan kadang tidak sebanding dengan fungsinya. Seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan tentang aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dalam tulisannya, Halim memakai contoh Masjid Jami’ Al-Baitul Amin Jember. Menurut Halim arsitektur yang dimiliki Masjid Al-Baitul Amin sangat menipu, karena dengan banyaknya sekat yang ada dalam masjid tersebut, membuat fungsi hakikinya sebagai tempat peribadatan kolektif telah dirampas2.

Saya kemudian menganggap jika arsitektur FS UJ disamakan dengan arsitektur hotel berbintang lima, maka itu bukanlah sebuah kebanggan melainkan sebuah kegagapan pembangunan dan kegagalan membentuk perspektif orang, bahwa yang dilihatnya adalah Fakultas Ilmu Budaya bukan sebuah hotel bintang lima. Maka saya menyebut pembangunan yang ada di FS UJ adalah sebuah pencarian jati diri yang salah, bahkan gagal. Selain itu sebuah lembaga pendidikan bukan membentuk kualitas bangunan tapi kualitas anak didik atau mahasiswanya.

Lepasnya pertimbangan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi dalam arsitektur bangunan FS UJ dari arsiteknya adalah salah satu penyebab kegagalan tersebut. Pada akhirnya arsitektur bangunan FS UJ, meminjam istilah Halim disebut sebagai estetika yang mengecoh, menipu bahkan kebablasan. Karena mengesampingkan nilai fungsi dalam memunculkan kekuatan arsitektur sebuah bangunan atas nama estetika adalah sebuah kesalahan yang fatal3.

Selain itu, pembangunan kebablasan yang dilakukan oleh pihak birokrasi FS UJ berbanding terbalik dengan pendanaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang semakin kesini semakin seret untuk cair. Sebagai salah satu mahasiswa yang pernah berkecimpung di salah satu UKM, saya sedikit banyak paham bagaimana alur pengajuan serta ploting dana untuk tiap UKM. Untuk tahun ini, ploting dana bagi UKM sebesar Rp 6.000.000 untuk semua kegiatan. Sedangkan proposal kegiatan selama satu kepengurusan harus masuk ke pihak birokrasi FS UJ terlebih dahulu. Tapi yang saya sayangkan adalah, dana hanya bisa cair untuk acara yang proposalnya sudah diajukan sebelumnya. Sedangkan untuk acara insidental tak ada uang yang bisa diperbantukan oleh fakultas.

Penjara Kenyamanan

“Mahasiswa masih diharapkan hadir dalam gerak pembangunan yang semakin berderak tapi kering bagi gagasan-gagasan yang sehat dan opini politik yang sehat pula. Terutama dari generasi mudanya, mahasiswa, yang katanya bakal mewarisi kepemimpinan negeri ini.” (Gelora Mahasiswa Edisi Februari 1997)

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh PD II sebagai pihak yang berhubungan dengan keuangan dan pembangunan menurut saya tidak buruk. PD II seperti mengharuskan mahasiswa untuk menghemat ploting dana mereka, untuk setiap kegiatan. Entah itu kegiatan utama atau kegiatan insidental. Tapi ada sebuah perbandingan terbalik, bagaimana pembangunan berkembang pesat sedangkan mahasiswa harus berhemat untuk kegiatan mereka. Saya teringat lagi pada Orde Baru dan Soeharto, juga teringat pada Mahasiswa Indonesia, salah satu media mahasiswa yang dengan keras mengkritik Soeharto.

…kalau kepada rakyat kita menganjurkan untuk sedikit menekan konsumsinya–yang sudah di bawah ukuran yang layak itu–untuk ditabungkan, maka tidaklah sepantasnya, apabila masih ada proyek-proyek pembangunan yang bersifat mercusuar, dengan biaya nonbudgeter sekalipun.4

Seperti itu bunyi salah satu berita Mahasiswa Indonesia untuk mengkritik proyek pembangunan Orde Baru. Saya melihat kritik tersebut juga cocok diberikan pada birokrasi FS UJ dengan proyek besar berdalih mempercantik fakultas. Tapi tak ubahnya orde baru, birokrasi FS UJ pun saya rasa anti kritik. Perbedaanya hanya terletak pada bagaimana melawan kritik yang muncul. Soeharto melawan kritik yang ditujukan padanya dengan pembungkaman serta penculikan. Sedangkan birokrasi FS UJ melawan kritik dengan kebebalan dan pledoi-pledoi usang serta moralitas-moralitas tinggalan ustadz-ustadz seleb di televisi.

Beberapa kali kritik pedas menyangkut pembangunan yang dilakukan pihak pimpinan muncul dari mahasiswa. Tapi kritikan itu sama sekali tak di dengarkan, bahkan terkesan sama sekali tak ada niatan untuk mendengarkan aspirasi mahasiswa. Padahal apa yang dibangun oleh pihak birokrasi FS UJ adalah fasilitas untuk mahasiswa.

Mental-mental peninggalan orba sepertinya masih bercokol dalam barisan birokrasi FS UJ. Yang paling kentara adalah pemaksakan kehendak dengan menerapkan kebijakan tanpa sosialisasi dan pertimbangan dari para mahasiswa. Padahal seharusnya kampus menjadi replika negara dan menjadi tempat belajar berdemokratisasi. Tapi sekarang, kampus seperti sebuah pondok pesantren yang menerapkan peraturan secara sepihak dan memaksakan mahasiswanya untuk nyaman dengan aturan itu.

Presiden Amerika ke-35, John Fitzgerald Kennedy pernah mengatakan bahwa kenyamanan adalah penjara untuk kebebasan dan musuh bagi pertumbuhan. Saya mengamini pendapat Kennedy, karena memang terkadang hal yang membuat kita nyaman akan membuat kita lalai akan berbagai hal. Kecurigaan inilah yang muncul di pikiran saya setelah melihat pembangunan yang ada di FS UJ. Sebuah kecurigaan yang tidak berdasar, tapi setelahnya saya mendengar bahwa pihak birokrasi ingin membuat mahasiswa merasa nyaman ada di dalam kampus. Boom…!!! Sebuah bom meletus di kepala saya, dari kecurigaan menjadi sebuah kegelisahan yang lain.

Awalnya saya punya kecurigaan bahwa pihak birokrasi yang bebal akan kritik itu akhirnya risih dengan kritikan yang masih saja bermunculan dari para mahasiswanya. Pada akhirnya jalan lain untuk meredam kritik itu adalah dengan memberikan sebuah kenyamanan serta kenikmatan yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Walaupun secara tidak sadar apa yang diberikan hanyalah hal yang sia-sia. Analoginya seperti seorang lelaki yang hidup sendirian dan sedang dalam keadaan ereksi. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan oleh lelaki itu, yaitu datang ke pelacuran atau onani. Tapi lelaki itu lebih memilih untuk onani, memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri.

Sebuah kenikmatan sementara, itulah yang didapat. Berdiri, memainkan alat kelamin lalu crooot…!!! Kemudian tak ada hasil. Dan sialnya mahasiswa yang mendaku dirinya menjadi aktivis atau lebih luasnya sebagai agent of change memang sedang suka onani. Menikmati kenyamanan semu yang meredam semua kecurigaan dan kritisisme. Itu hanyalah sebuah bentuk kecurigaan saya, tapi mari dibuktikan. Apakah ketika kita sedang ada dalam keadaan yang nyaman rasa malas akan muncul? Jika pertanyaan itu diajukan pada saya, maka jawabannya “males ngapa-ngapain nih, lagi PW (posisi wenak)”. Ini adalah pengendalian alam bawah sadar manusia.

Tapi ada kegelisahan dan ketakutan yang lebih besar dalam diri saya. Jika alam sadar manusia menyuruh untuk selalu mendapatkan sebuah kenyamanan dan akan membuat manusia terpenjara dalam kenyamanan itu, maka bagaimana nasib mahasiswa selanjutnya?

Apakah kenyamanan di kampus membuat mereka betah dan memilih lulus lebih lama atau malahan membuat mahasiswa berpikiran untuk segera lulus dan angkat kaki dari kampusnya? Belum ada rumput bergoyang yang bisa saya tanya karena rerumputan di FS UJ sudah digusur oleh paving. Maka mari mencari jawabannya.

Tapi sebelum menjawab, saya ingin bertanya lagi. Apakah saya akan dikenai pasal haatzaai artikelen (pasal-pasal kebencian) oleh birokrasi FS UJ karena tulisan ini? Ataukah saya akan di drop out karena tulisan ini? Saya tidak tahu, tapi saya siap untuk segala konsekuensi yang harus ditanggung.

 

 


1 Diambil dari buku Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan karya Wisnu Prasetyo Utomo, halaman 34

2  Dari tulisan Halim bahriz berjudul Estetika Kebablasan Dalam Arsitektur Masjid Jami’ Al-Baitul Amin di Karbon Journal (http://www.karbonjournal.org/review/estetika-kebablasan-dalam-arsitektur-masjid-jami%E2%80%99-al-baitul-amin)

3 Ibid

4 Dari buku Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan karya Wisnu Prasetyo Utomo, halaman 40

 

Komentari
To Top