Ngobrol

Graffiti dan Seni Mengkritik

Karya Oka Setsu dalam Art Mosphere Exhibition yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Kolang Kaling. (Foto: Rosy/IDEAS)

Untitled setsu

Saat acara pameran Art Mosphere Exhibition 31 Maret lalu, redaksi persmaideas.com sempat berkenalan dengan seorang graffiti writers yang akrab dengan nama Oka Setsu. Kawan kita asal bantul ini Bantul merupakan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Fakultas Seni Rupa, Jurusan Seni Grafis Murni. Ketertarikannya pada graffiti sudah sejak di bangku SMP tahun 2007. Dengan penuh keramahan, Oka yang pernah mendapatkan juara 2 lomba Graffiti MuralJogja Wall Nation 2010″ di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta. Juga juara 3 di lomba graffitiWall Lord Indonesia 2011” di Monumen Perjuangan Bandung, Jawa Barat. Berikut pandangan Oka tentang dunia graffiti.

 

 

Kalau menurut pandangan Mas Oka sendiri, graffiti itu apa sih?

Kalau graffiti itu istilah baru, sebelum graffiti itu ada namanya graphium (bahasa latin). Graphium itu dulu untuk membuat tulisan atau simbol. Sekarang dijuluki graffiti, yang artinya menulis. Jadi graffiti itu sendiri kan sebuah penggambaran bentuk tipografi, penulisan-penulisan abjad. Terus dengan kemajuan zaman, beralih ke kehidupan hip-hop dari budaya barat, graffiti ya membuat tipografi-tipografi yang menarik, atau yang memiliki volume.

 

Yang saya lihat, karya Mas Oka ini lebih ke karakter ya? Karakter burung hantu, kenapa Mas?

Kalau yang saya buat ini merujuk ke graffiti karakter. Yang pertama itu lebih ke tipografi, yang kedua karakter. Karakter ini melengkapi. Karakter yang biasa saya gambar ini idenya dari game, game mitologi. Saya jadi tertarik mengambil anatomi muka hewan tapi badannya manusia. Dan akhirnya saya ambil kepala burung hantu. Seekor predator yang keluar malam, seperti para graffiti writers yang sering membuat gambar di malam hari.

 

Kalau di Yogyakarta nama komunitas graffitinya apa?

Komunitasnya banyak, cuman kalo perkumpulan dari seluruh komunitas itu namanya YORC, Yogyakarta Art Crime, Jogja Seni Kejahatan.

 

Loh, Mas Oka penjahat dong?

Hahaha. Memang aksi graffiti itu suka dianggap penjahat, karena hasil dari graffiti bisa menjadi aksi protes dan juga wadah mengkritik. Sebenarnya graffiti pada Zaman Roma, di Kota Pompeii yang pemerintahannya keras, mereka juga membuat graffiti. Menurut saya, kalo ada satu kota gak ada graffiti, kota itu gak hidup, kota itu mati, pemerintah kota mau berbuat salah itu pasti berjaya, gak ada yang protes, tapi dengan adanya graffiti, kita selalu bisa mengkritik. Gitu sih pandangan saya.

Karya Oka berjudul Bali Bombing. (Doc. Pribadi)

Karya Oka berjudul Bali Bombing. (Doc. Pribadi)

Di Yogyakarta itu kok para graffiti writer-nya bisa aktif ya mas?

Kalau di Jogja memang legal ya untuk dunia seni jalanan atau street art. Sejak tahun 2010, ada acara Biennale Jogja. Jogja kan terkenal dengan kota seni, jadi Gubernur Jogja melegalkan street art. Meskipun resikonya banyak vandalisme.

 

Bedanya graffiti dan vandalisme?

Grafiti memang terbentuk dari aksi vandalisme, cuma vandalisme itu gak beraturan. Tapi kalau grafiti itu sudah tertata, setiap font huruf yang akan ditulis, jadi gak hanya sekedar menulis. Punya konsep sebelumnya.

 

Ini kan pertama kali Mas Oka ke Jember, ada rencana kesini lagi gak?

Iya. Tahun depan mungkin, bikin acara sendiri sama temen-temen. Acaranya kalau kata temen-temen sih Graffiti Jamming. []

 

 

Penulis: Winda Chairunisyah Suryani

Reporter: Rosy Dewi Arianti Saptoyo

Komentari
To Top