Berita

Diskusi Peran Persma dalam Isu Buta Aksara

Diskusi Buta Aksara dihadiri oleh beberapa anggota dari berbagai LPM di Jember (20/9)
Peserta diskusi Buta Aksara yang dilaksanakan pada Selasa (20/9) di Gedung B Universitas Muhammadiyah Jember. (Foto:Rosy/IDEAS)

Selasa (20/9) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember menggelar diskusi bertema “Buta Aksara”. Tema yang diangkat disesuaikan dengan kebutuhan PPMI dalam mengawal isu dalam satu periode kepengurusan. “Sudah disepakati untuk satu tahun kepengurusan kita akan mengawal isu kota buta aksara,” jelas Fais Ridho Nur Alamsyah pengurus PPMI kota Jember.

Bertempat di ruang 2.12 Gedung B Universitas Muhammadiah (UNMUH) Jember. Peserta terdiri dari beberapa anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Jember. Teman diskusi kali ini adalah Rizki Nurhaini, Direktur Yayasan Prakarsa Swadaya Masyarakat (YPSM) Jember.

Diskusi dibuka dengan penjabaran mengenai buta aksara yang terjadi di kota Jember. Bahwa kota Jember menyandang peringkat tertinggi se-Jawa Timur dalam kasus ini.

Rizki beranggapan bahwa kasus buta aksara ini adalah kasus yang besar dan cakupannya luas, namun tidak banyak orang yang memperdulikan buta akasara ini sebagai suatu masalah. ”Ketika orang-orang memandang buta aksara yaitu apatis, gak peduli dan buta aksara itu dianggap sebai aib. Jadi bukan masalah yang harus diselesaikan, tapi sebuah aib yang harus disembunyikan,” tutur Rizki.

Herlina Ekawati salah satu peserta diskusi mulai bertanya tentang validitas data yang telah disampaikan. Menurutnya pendataan di Indonesia tergolong buruk. Dia bercerita tentang kisahnya saat melakukan penelitian untuk mengkonfirmasi data yang telah ada dengan keadaan sebenarnya. “Data yang saya peroleh itu jumlah buta aksara yang ada di Jalan Karimata sebanyak 100 orang penyandang buta aksara, tapi setelah saya terjun langsung ke lokasi ternyata hanya ada 10-20 orang yang buta aksara,” ungkap Herlina.

Diskusi pada malam itu menjadi lebih menarik ketika salah satu peserta diskusi mengemukakan pendapatnya memandang buta aksara.

Rosy Dewi Arianti Saptoyo berpendapat bahwa hal penting selain mengenalkan aksara pada kaum tertindas adalah memberikan kesadaran. Ia menjelaskan, bahwa penyandang buta aksara didominasi oleh kaum kelas menengah kebawah.

Penindas dan tertindas. Konsep Paulo Freire seorang pemerhati pendidikan asal Brazil akhirnya dibawa oleh Rosy. Ia menggambarkan keadaan buruh sebagai sisi yang tertindas dan pemilik perusahaan sebagai penindas. “Tolak ukur kesejahteraan dimata tertindas adalah menjadi penindas. Maka tanpa adanya kesadaran, maka penindasan adalah abadi,” kata Rosy. Ia menjelaskan, meskipun pers mahasiswa tidak bisa secara langsung memberantas buta aksara, tapi setidaknya bisa memberi kesadaran.

“Apakah buta aksara adalah sebuah masalah bagi kalian ?” tanya Rizki kepada seluruh peserta. Mereka semua menjawab buta aksara adalah masalah. Lalu Rizki bertanya kembali kepada peserta. “Apa langkah kongkrit selanjutnya setelah diskusi ini selesai?”.

Fais mencoba menjawa pertanyaan Rizki dengan menghubungkannya dengan alur kerja PPMI. “Kita akan membuat wacana lalu terjun langsung ke lokasi buta aksara untuk mencari data lalu mengemasnya dalam media kami,” ungkap Fais. Diskusi berakhir, apa yang ia sampaikan menjadi beban baru bagi PPMI untuk melaksanakan program kepengurusan. []

Komentari
To Top