Berita

Layar Kemisan putar film yang tidak ada di bioskop

Fauzi Ramadani memberi pengantar sebelum pemutaran film. (Foto: Rosy/IDEAS)

Layar Kemisan kembali memutar tontonan alternatif. Bertempat di Home Teater Fakultas Ilmu Budaya, Layar Kemisan memilih tiga film pendek Indonesia yang lolos dalam Cannes Film Festival. Pemutaran diadakan dua sesi mulai tanggal 1 sampai 2 Oktober 2016.

Tiga film pendek yang diputar adalah Prenjak/In The Year Of Monkey karya Wregas Bhanutheja, The Fox Exploits the Tiger’s Might karya Lucky Kuswandi, dan Kara Anak Sebatang Pohon karya Edwin. Kesempatan kali ini Layar Kemisan bekerja sama dengan Kolektif, salah satu distributor alternatif di Indonesia. Fauzi Ramadani, program officer Layar Kemisan menerangkan bahwa Layar Kemisan sudah membangun jaringan dengan Kolektif sejak satu tahun lalu. “Kerjasamanya adalah kita memutar film mereka dengan sharing fee,” kata Fauzi. Hasil penjualan tiket akan dibagi 40% untuk pembuat film, 30% untuk distributor, yaitu Kolektif dan 30% untuk Layar Kemisan sebagai exhibitor lokal.

Banyak film Indonesia yang tidak lolos diputar di bioskop. Solusi agar bisa ditonton, maka pembuat film menitipkan karya-karya pada distributor, baik distributor Indonesia maupun Internasional. “Film-film alternatif indonesia yang sangat tidak mungkin untuk bisa masuk slot bioskop akhirnya menggunakan skema distribusi seperti ini,” tutur Fauzi.

“Lalu distibutor ini yang memasarkan ke teman-teman komunitas di daerah yang fokus pada pemutaran film,” tambahnya.

Pemutaran film di bioskop tidak memakai skema distribusi, sehingga produser langsung bekerja sama dengan exhibitor. Film yang masuk ke bioskop harus melalui sensor dari lembaga sensor film. Sensor yang dilakukan biasanya dengan memotong adegan. Namun dengan adanya skema distribusi, Fauzi menerangkan bahwa exhibitor lokal dapat melakukan kurasi dan sensor mandiri. “Terus juga untuk sensor lebih fleskibel sih kita,” ujar Fauzi. Seperti yang dilakukan Layar Kemisan kali ini dengan menentukan kelompok umur untuk penonton.

Fauzi menerangkan bahwa pemutaran semacam ini menjadi alternatif bagi mahasiswa dan penonton umum, untuk menikmati film berkualitas selain di bioskop. “Karena di Jember cuma ada dua tempat untuk nonton film. Pertama Cinemaplex Kusuma, yang kedua Fakultas Ilmu Budaya,” kata Fauzi. []

Komentari
To Top