Berita

Emma, Kisah Cinta Gadis Borjuis

Pementasan drama Emma di Gedung PKM UJ pada Selasa 29 November 2016.(Foto: Ayu/IDEAS)

“Acara pertama di HMJ Sastra Inggris yang paling gede ya ini wes. Sebenarnya kakak-kakak kelas dulu juga besar, cuma acaranya itu hanya di fakultas doang,” ujar Nurul Firdausyah, ketua panitia pementasan drama Emma. English Departement Student Association (EDSA) menampilkan pementasan drama saduran dari novel Emma karya Jane Austen, pada Selasa (29/11) di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Jember (PKM UJ).

Nurul mengungkapkan alasan pemilihan novel Emma karena menyesuaikan jumlah anggota antara perempuan dan laki-laki dengan drama yang ditampilkan. “Awalnya masih rapat itu milihnya Prejudice tapi ternyata lebih milih novel Emma. Soalnya Emma kan lebih banyak ceweknya dibandingkan cowoknya. Anggotanya kita juga lebih banyak cewek daripada cowok. Jadi kita prefer ke temanya juga,” ungkap Nurul.

Emma merupkan nama tokoh utama dari drama tersebut. Gadis yang lahir di kalangan borjuis ini gemar mencampuri urusan cinta orang lain. Ia bahkan menjodohkan temannya dengan laki-laki yang Emma anggap mapan, padahal temannya mencintai seorang petani. Dari kisah ini Nurul berpendapat bahwa pemikiran untuk menilai seseorang dari luarnya bukanlah etika yang baik. “Jadi kita jangan nge-judge enggak punya etika atau apa,” tutur Nurul.

Dibandingkan dengan tahun kemarin, Nurul merasa puas karena acara pementasan Emma menjadi acara pertama dari EDSA yang sukses setelah pementasan drama A Midsummer Night’s Dream dari mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2013. “Tapi ini kita nyoba yang beda gitu, semacam berkiblat dari A Midsummer Night’s Dream kemarin itu kan sukses,” kata Nurul. Ia berharap agar kegiatan EDSA semakin berkembang dari tahun ke tahun.

Acara ini dibuka dengan penampilan musik dan pembacaan puisi. Penampil tersebut antara lain Behel Berduri, vocal grup Vocalista, Unfragile, IMASIND, dan Intro V sebagai band penutup. Selain mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas, pementasan ini dihadiri oleh Ketua Jurusan Sastra Inggris FIB UJ.

Bayu Subroto, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2015 menikmati pementasan drama Emma. Ia terkesan dengan akhir cerita yang di luar perkiraan. Di awal cerita Emma digambarkan sebagai gadis yang tidak peduli pada kisah cintanya sendiri. Pada pertengahan ia sempat mengalami jatuh cinta namun dikecewakan. Kisah berakhir bahagia. Ia menikah dengan orang yang selama ini memperhatikannya, hanya saja terabaikan oleh Emma. “Drama ini bagus karakternya di samping kita gak bisa nebak endingnya,” kata Bayu. []

 

Penulis: Ayu Kristiana

Komentari
To Top