Seni & Budaya

Natuh: Pementasan Teater Boneka Merefleksikan Konflik Agraria di Indonesia

Pementasan Teater Boneka berjudul Natuh oleh Flying Ballons Puppet (11/02) di Gedung PKM Universitas Jember. (Foto: Febriyanti Pratiwi)

Natuh, nama sebuah desa yang dihuni oleh Luta sang penjaga hutan serta makhluk kecil bernama Taran dan Tala. Taran dan Tala hidup damai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan di Natuh. Di luar Natuh, ada makhluk berbentuk babi dengan mata berlogo dolar, makhluk perusak lingkungan yang mengubah ekosistem sampai berdampak ke Natuh.

Taran dan Tala yang sering mencari burung bersama, kini ketakutan di rumahnya sendiri. Babi bermata dolar itu telah merusak kedamaian Natuh, rumah bagi Taran dan Tala. Luta sang penjaga hutan murka dan akhirnya ia memakan semua keburukan bahkan juga kebaikan. Semua hancur tak terkecuali Natuh. Namun, Luta menggantikannya dengan dunia baru yang disimbolkan dengan tumbuhnya tunas baru.

Pementasan teater boneka berjudul Natuh merupakan sebuah kontemplasi dari banyaknya konflik agraria yang ada di Indonesia. Taran dan Tala si makhluk kecil tak berdaya serupa dengan nasib petani di Indonesia. Pemilik modal dengan rakus merenggut hak para petani. Kedamaian hancur karena keserakahan babi bermata dolar.

Tahun 2016 jumlah konflik agraria di Indonesia terjadi lonjakan dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Luas wilayah konflik agraria kini mencapai 1.265.027 hektar, dan perkebunan menjadi sektor konflik agraria tertinggi dengan 163 konflik dan luas wilayah 601.680 hektar. [1]

Melalui pementasan Natuh, Flying Ballons Puppet mengajak penonton dapat merasakan adanya masalah yang sedang terjadi di Indonesia, terutama masalah lingkungan. Bumi akan semakin cepat hancur ketika manusia terus tamak menguras kekayaan alam. []

 

 

[1] Konsorium Pembaruan Agraria (KPA).

Komentari
To Top