Berita

Angkat isu agraria, Majalah Explant melebihi media alternatif

Sesi diskusi dalam launching Majalah Explant edisi XVIII. (Foto: Ulfa/IDEAS)

Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Explant mengadakan launching majalah Explant edisi XVIII/TH XXI/Februari 2017 di Gedung Asah Asih Asuh Politeknik Negeri Jember, pada Minggu (26/2). Dalam edisi kali ini Majalah Explant mengangkat isu tentang agraria. Tema tersebut mendapat respon positif dari Wahyu Giri Prasetyo selaku pembicara di acara launching ini.

Acara dimulai pukul 13.00 dengan rangkaian acara yakni pembukaan, sambutan dan diskusi. Diskusi tersebut mengangkat tema agraria yang sesuai dengan judul majalah Explant Menagih Komitmen Agraria. Selain Giri, Galuh Dwi Saraswati, pemimpin redaksi majalah Explant menjadi teman diskusi kali ini. Mereka mengawali diskusi dengan presentasi mengenai majalah Explant baik dari segi tema maupun isinya.

Galuh menjelaskan bahwa alasan tim redaksi mengangkat tema ini dikarenakan isu agraria telah lama terjadi di Indonesia namun jarang sekali terungkap oleh media massa. Padahal isu semacam ini perlu disuarakan. “Tim redaksi menganggap bahwa pembangunan di Indonesia terutama pembangunan di daerah tidak mengutamakan kesejahteraan masyarakat,” ujar Galuh saat mempresentasikan majalah.

Majalah Explant membahas mengenai perjuangan petani di daerah Bongkoran, Wongsorejo, Banyuwangi dalam rubrik laporan khusus. PT. Wongsorejo memanipulasi cap jempol warga Wongsorejo untuk mengajukan Hak Guna Usaha kepada Badan Pertanahan Nasional. Sampai saat ini warga Wongsorejo, melalui Organisasi Petani Wongsorejo Banyuwangi, masih berusaha menyuarakan hak-hak atas tanahnya. Untuk sirkulasi yang lebih leluasa, redaksi Explant juga menyediakan majalah versi digital yang dapat diunduh disini.

Giri mengungkapkan bahwa tim redaksi Explant berani mengambil angle yang jarang dimuat oleh media mainstream. Ia menganggap bahwa Persma telah mampu menjadi alternatif dan menggantikan peran media mainstream. Perusahaan media, menurut Giri, berkaitan erat dengan kapital. Maka idealisme wartawan bisa jadi bertentangan dengan perusahaan media. Dari sini Giri mengapresiasi keberanian Persma sebagai media yang melebihi media alternatif. “Kalau saya tidak lagi menganggap Persma sebagai media alternatif tapi sudah lebih,” ujar Giri.

“Karena kalau alternatif kan ada pilihannya, ini malah menjadi satu-satunya. Mana yang ngangkat kasus Bongkoran? Mana yang ngangkat kasus Tumpang Pitu?” tanya Giri. []

Komentari
To Top