Berita

Dana dari fakultas kurang, pentas tetap digelar

Jajaran aktor pementasan Orang-orang di Tikoengan Djalan. (Foto: Laili Daviatin/Sastra Indonesia 2015)

Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2014 gelar pementasan teater. Bertempat di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Jember (UJ), mahasiswa yang menempuh Mata Kuliah Teater II ini menyuguhkan naskah Orang-orang di Tikoengan Djalan karya W.S. Rendra. Winda Dewi, Pimpinan Produksi pementasan mengaku dana dari fakultas masih sangat kurang.

Teater II merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang memilih konsentrasi sastra di Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UJ. Tahun ini mata kuliah itu hanya ditempuh oleh 15 orang. Sedangkan yang aktif dalam penggarapan pentas hanya 13 orang. Dua orang lain tidak ambil andil. “Satu alasannya sakit, satu lagi belum konfirmasi secara langsung jadi saya sendiri gak bisa kasih tahu alasannya,” tutur Winda.

Kendala bertambah tatkala birokrasi kampus masih belum mencairkan dana praktikum untuk Teater II. Dekanat menjanjikan akan mencairkan Rp. 50.000 per anak. Dana itu, menurut Winda jauh dari kata cukup. “Jadi menurut saya memang sangat kurang mengingat kami cuma ber-13,” tukas Winda.

Untuk menutup biaya produksi pementasan, Winda dan teman-temannya sepakat untuk memakai dana pribadi. Mereka membayar Rp. 100.000 per anak. “Dan itu pun masih kurang, sehingga harus pinterpinter cari dana tambahan,” tambahnya.

Winda dan tim produksi Teater II akhirnya meminta bantuan dana dari dosen pengajar. Mereka juga mendapat tambahan dana dari sisa praktikum Mata Kuliah Teater I. Bahkan mahasiswa Sastra Inggris 2014 juga menghibahkan dana sisa pentas dramanya. “Lebih banyak hibah dari anak-anak linguistik sisa Teater I kemarin, terus anak Sastra Inggris 2014 sisa dari pertunjukan drama mereka kemarin, sama permohonan dana ke dosen-dosen,” jelas Winda.

Selain bantuan dana dari mahasiswa lain, mereka juga mendapat bantuan tenaga dan jasa. Mulai dari kakak tingkat, mahasiswa konsentrasi linguistik, juga mahasiswa Sastra Inggris. “Mereka ikut berpartisipasi, berkontribusi, dan berperan cukup banyak,” tukas Winda.

Sekitar 200 tiket pementasan habis terjual. Tiket yang dijual terbuat dari stiker. Beberapa penonton tidak mendapat stiker karena sudah terjual habis. Namun mereka tetap diperkenankan menikmati pementasan. “Itu juga ada yang beli tiket tapi gak dapet stiker,” tutur Winda.

Meski dana dari dekanat sangat minim, Winda merasa lega karena pementasan Teater II bisa sukses. “Lega banget, pementasannya sukses dan dapat menghibur penonton. Usaha kami berbulan-bulan untuk menampilkan yang terbaik saya kira gak sia-sia,” kata Winda. []

Komentari
To Top