Berita

Diskusi Film Shadow Play, melihat G30S/PKI dari sudut pandang yang berbeda

Diskusi Film Shadow Play di UNMUH Jember pada 11 Oktober 2017 (Foto: Dena/Ideas)

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aktualita Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Jember menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film Shadow Play pada Rabu, 11 Oktober 2017. Acara ini diadakan di Gedung Tapak Suci dan Taekwondo UNMUH. Film Shadow Play yang dibuat oleh Chris Hilton ini menceritakan mengenai peristiwa G30S/PKI melalui sudut pandang para terduga Partai Komunis Indonesia (PKI) dan keluarganya.

Pemutaran film yang dilanjutkan diskusi ini dimulai pada pukul 19:30 hingga 23:00. Fais Ridho Nur Alamsyah selaku Ketua Panitia menjelaskan alasan memilih film Shadow Play diantara film dokumenter mengenai G30S/PKI lainnya. Ia menganggap film lain terlalu sering diputar sehingga memutuskan untuk memilih film ini. “Shadow Play ini dari film tahun 2003 kan oleh Chris Hilton. Jadi banyak yang gak tahu. Perlu kita refleksi dengan film yang sudah ada tapi kualitasnya sebagus itu,” jelas Fais.

Pemutaran film yang sudah dipersiapkan sejak dua hari lalu ini dihadiri oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UNMUH dan juga LPM se-Jember. Acara ini juga mendatangkan dua pembicara diskusi yaitu Dwi Pranoto dan Donny Delyar N. Fais mengatakan bahwa acara ini diadakan dalam rangka memperingati peristiwa G30S/PKI dan juga untuk mempererat tali persaudaraan UKM-UKM di UNMUH yang baru melakukan Open Recruitment.

Pemutaran film ini sempat mengalami sedikit kendala mengenai perijinan tempat. Fais mengatakan bahwa ia sempat menunggu beberapa waktu untuk meminta izin penggunaan ruangan, dikarenakan anggota Tapak Suci dan Taekwondo tidak ada di tempat. “Ini Gedung Tapak Suci dan Taekwondo kan, cuma orang-orangnya gak ada jadi harus menunggu beberapa waktu,” terang Fais. Meski mengalami sedikit kendala, pemutaran film terus berjalan tanpa adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun Fais cukup menyayangkan jalannya diskusi yang kurang maksimal dikarenakan masih belum banyak peserta yang berpartisipasi dalam diskusi. “Kan diskusi gak hanya seperti dakwah, kita bertanya kepada pemateri dan pemateri menjawab. Ya aku harapannya maksimal bisa ngomong dan saling bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya,” ujar Fais. Melalui pemutaran film ini ia berharap agar orang yang belum paham mengenai isu ini bisa lebih toleran dan terbuka, dan yang sudah paham bisa menjelaskan bahwa sejarah harus diluruskan.

Meski seperti itu, Herman Setiawan, peserta diskusi dari LPM Manifest merasa puas dengan acara yang diadakan ini. Dia merasa diskusi berjalan dengan dua arus yang sama antara pemantik dan peserta. “Ini tuh bagus dan dari si pemantik memberikan jawaban yang bagus, ” jelas Herman.[]

 

Penulis: Denaneer Nabilah

Komentari
To Top