Berita

Mahasiswa anggap Telegram tidak dibutuhkan

Anggapan Mahasiswa berbeda dengan pihak UJ mengenai penggunaan Telegram. (Ilustrasi: Yuniar/IDEAS)

Kebijakan baru yang telah dikeluarkan oleh Universitas Jember (UJ) pada Selasa, (30/01) mengenai penggunaan Telegram, telah menuai banyak komentar dari kalangan mahasiswa UJ. Telegram menjadi aplikasi pendukung untuk mahasiswa dalam mengakses Sistem Informasi Terpadu (Sister) dalam membuat Kartu Rencana Studi (KRS).

Arif Muhammad Rizal mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UJ mengutarakan keberatannya  terhadap penggunaan Telegram. Menurutnya, aplikasi ini tidak menjamin akan terjalinnya komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa. “Kalau pakai Telegram pun hubungan kita sama dosen ya enggak bakal lancar kalau enggak ngobrol langsung sih,” ucapnya.

Arif merasa penggunaan Telegram tidak diperlukan oleh mahasiswa, Karena selama ini mahasiswa sudah menggunakan berbagai macam jalur komunikasi yang telah tersedia sebelumnya dengan fungsi yang sama. “ Enggak terlalu perlu sih mbak, soalnya ya kita hubungan sama dosen dulu via WA, SMS, telepon, ataupun ketemu langsung, sekarang tambah lagi Telegram yang sama fungsinya dengan WA ataupun SMS, jadi enggak terlalu perlu sih,” ucap Arif.

Menurutnya komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen bukanlah dicapai melalui aplikasi namun langsung pada masing-masing individu. “Kalau tujuannya untuk memperlancar komunikasi antar mahasiswa dan dosen, ya dosen harusnya bersifat seperti kawan dari mahasiswa, kan dosen sekarang tidak seperti itu, enggak semua sih,” jelasnya.

Arif juga mengkritisi keberpihakan kebijakan ini terhadap mahasiswa. Karena tidak seluruh mahasiswa menggunakan smartphone dan bisa menginstall aplikasi ini. “Seharusnya pihak Unej juga harus perhatikan hal itu juga, jadi Unej bisa buat alternatifnya, entah apalah, jadinya enggak sepihak,” jelas Arif.

Arif berharap untuk kedepannya pihak UJ bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik dengan melibatkan berbagai pihak untuk mengambil keputusan. “Kalau mengambil keputusan itu juga melibatkan semua elemen-elemen yang ada di Unej. Dari mahasiswa katanya ada BEM yang katanya penyalur lidah mahasiswa, yaitu dah dirembug enaknya gimana,” tukas Arif. []

Komentari
To Top