Berita

Cerminan rutinitas masyarakat Madura dibalik pementasan Teater Rakara

Teater Rakara di Pawon Art Space Rabu (21/02). (Foto: Warda/IDEAS)

Pawon Art Space diramaiakan oleh adanya pertunjukan teater antropologi pada Rabu (21/02). Teater ini berjudul “Rakara”. Acara tersebut diselenggarakan oleh Kamateatra Art Project, Padepokan Seni Madura, Pawon Art Space, dan Komunitas Gelanggang.

Anwari selaku sutradara sekaligus aktor mengungkapkan tema dan judul teater ini diambil dari kehidupan sehari- hari masyarakat Madura. Masyarakat Madura seringkali beraktivitas dengan menggunakan rakara. Rakara dalam bahasa Madura berarti sebuah alas, tikar, atau dasar yang berasal dari daun siwalan. Menurutnya tema ini merupakan tema yang sepele tapi penting bagi manusia. “Untuk pementasan rakara sebenarnya saya mengambil hal-hal yang simple dalam rutinitas rumah di Madura. Bagaimana rakara sebagai alas untuk duduk, untuk tempat berbaring, bercengkrama, dan tamu tamu disuguhi kopi diatasnya,” jelas Anwari.

Dalam proses latihannya, Anwari dan para aktor mendapat beberapa masukan saat bercengkrama dengan warga sekitar dan keluarga. Ia mengatakan bahwa rakara tidak hanya berarti alas atau tikar saja. Rakara berasal dari kata rakarana yang bermakna asal-usul manusia. Dari situlah tema teaternya mulai berkembang. “Awalnya masyarakat, paman, dan keluarga saya menonton. Ngobrol, ngopi, rakara itu gak hanya alas tikar tapi orang dulu menyebut rakara itu sebagai asal-usul manusia,” tukas Anwari.

Rencananya pertunjukan teater ini akan digelar di berbagai kota di Indonesia sepanjang tahun 2018. Hingga saat ini Anwari dan timnya sudah mengunjungi enam lokasi. Diantaranya adalah Kota Malang, Blitar, Jogjakarta, Kulon Progo, Surabaya, Jember, dan akan dilanjutkan ke Bali pada tanggal 24 Februari mendatang. Ia juga mengatakan bahwa puncak dari pertunjukan ini akan diselenggarakan di dua negara yakni Singapura dan Jepang pada tahun 2019.

Anwari menjelaskan bahwa berkesenian bisa dilakukan dimana saja. Menurutnya kesenian itu bukan diciptakan dari sebuah ruang melainkan diciptakan oleh kehadiran manusia. “Kita bisa hadir dimanapun, kesenian itu bukan diciptakan oleh gedung, tempat, atau fasilitas. Kesenian itu kan diciptakan oleh orangnya,” tutur Anwari.

Ia mengatakan tujuan dari pementasan ini adalah agar manusia mampu menghadapi persoalan dirinya sendiri sebelum menghadapi persoalan yang lainnya. Hal ini dimaksudkan sama seperti sebuah rakara yang berarti sebuah dasar atau asal- usul manusia. “Tujuan pentas ya, sekarang kita menjawab persoalan diri kita saja belum selesai apalagi menjawab persoalan di luar diri kita gitu,” jelasnya.

Selain itu, Anwari juga menjelaskan tujuan lain dari pementasan ini adalah agar terciptanya ruang diskusi untuk menambah pengetahuan. “Acaranya untuk memproduksi pengetahuan. Bagaimana pengetahuan itu dilahirkan dalam forum-forum semacam ini,” ungkap Anwari. []

Komentari
To Top