Acara

Komunitas dan regenerasi musik indie di Jember

Canggih, Maltha, dan Mei Artanto di depan peserta diskusi pada (18/3). (Foto: Dewi/IDEAS)

Pawon Art Space kembali selenggarakan Ngaji Musik #3 pada Minggu, (18/3). Diskusi kali ini membahas tentang Iklim bermusik di Jember bersama dua musisi indie Jember, Maltha Casandra Hilda dan Canggih Widagdo. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa musisi senior dan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa bidang kesenian di Jember. Mei Artanto, seorang ahli musik (musikolog) populer dari Jogja menjadi teman diskusi kali ini.

Maltha dan Canggih berproses di komunitas yang sama yakni Finger (kolektif indie grup Jember). Pada acara tersebut, Maltha menjelaskan bahwa Finger sempat vakum. Ia menceritakan pengalamannya di Finger. “Tahun 2006 itu banyak banget band indie Jember. Terus makin ke sini jadi berkurang,” keluh Maltha.

Bagi Maltha, Finger adalah tempat musisi indie Jember untuk berbagi informasi tentang musik dan bersosialisasi sesama pegiat musik indie. Ia juga menjelaskan bahwa dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, musisi dapat melakukan proses penciptaan karyanya sendiri.  “Kalo sekarang, promo udah makin gampang, info-info semacam kayak gimana nyari recording dan sebagainya tinggal Google aja dapet. Jadi musisinya juga banyak yang individual,” kata Maltha.

Awal tahun 2017 Finger merilis album kompilasi dengan bentuk akustik. “Kami gabung lagi setelah beberapa tahun vakum. Bareng teman-teman yang niat bikin aja, di awal tahun 2017 kami launching album kompilasi, judulnya Awake an January 2017,” kisah Maltha.

Maltha berharap akan ada proses regenerasi untuk Finger. “Kita rasanya udah jarang liat orang baru, maksudnya kalau kumpul kok orangnya itu lagi itu lagi. Jadi seneng kalau ada proses regenerasi,” ungkap Maltha.

Canggih juga berharap, pemuda yang bergelut di dunia musik untuk terus berkarya. “Pesannya cuma terus berkarya, itu aja. Berproses, berkarya lagi, proses, berkarya lagi, begitu terus,” tuturnya.

Komentari
To Top