Berita

Pemutaran Film Asimetris oleh Plantarum, Sebuah Upaya Mengasah Kepekaan Pers Mahasiswa

Suasana diskusi film asimetris di warung ndalung, Senin (26/3). (Foto: Dewi/ IDEAS)

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM Plantarum) menggelar acara Pemutaran dan Diskusi Film Asimetris di Warung Ndalung, Jember. Dandhy Laksono dan Indra Jati merupakan produser dari Film Asimetris. Pemutaran Film yang diadakan pada Senin (26/03) tersebut merupakan kerja sama dari LPM Plantarum dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Jember, Warung Ndalung turut mendukung sebagai penyedia tempat dan kopi.

Viky Ardiansyah, Pemimpin Umum LPM Plantarum menyatakan bahwa alasan pemilihan Film dokumenter Asimetris bukan hanya karena film tersebut merupakan produksi dari Watchdoc yang terbaru. “Soalnya ini film terbarunya Watchdoc dan untuk persma sendiri kalau tidak diputar nanti kan jadi ketinggalan tentang isu-isu lingkungan yang ada,” ungkap Viky.

Pemutaran film ini bertujuan untuk membangun kepekaan persma. “Kalau bisa pers mahasiswa itu lebih peka lagi terhadap isu-isu lingkungan di sekitar kita, nggak harus nunggu isu itu booming baru diangkat,” ungkap Viky.

Meskipun persiapan pemutaran film hanya membutuhkan waktu satu minggu, namun Viky beranggapan bahwa antusiasme penonton dan peserta diskusi cukup tinggi. “Antusiasme cukup tinggi. Ya dilihat dari tanggapan-tanggapan mereka,” ungkap Viky.

Isnaini Nur Hidayati Mukaromah, salah satu peserta diskusi dari Unit Pers Mahasiswa (UPM) Millenium sangat mengapresiasi pemutaran Film Asimetris. “Menurut saya film ini bagus sekali ya ditayangkan kepada persma. Karena, persma itu kan tujuannya juga mengawal isu-isu lokal maupun nasional,” terang Isnaini.

Ia juga menyatakan bahwa dengan diputarnya Film Asimetris, persma dapat mengetahui masalah-masalah agraria yang sedang marak di Indonesia. “Dengan penayangan film ini, kita jadi tahu problem-problem apa yang ada di Indonesia,” ungkapnya.

Isnaini menilai bahwa nilai tambah dari film Asimetris adalah kemunculan data-data yang berupa persentase-persentase dan data statistik terkait dengan kasus-kasus agraria dalam film. “Film ini sangat kuat data-datanya, jadi nggak sekadar hasil wawancara saja. Tapi juga didukung dengan data-data yang konkret,” terangnya. []

Komentari
To Top